Suatu siang yang terik, di mana saya
sedang berteduh di warung depan Bandara Mali sambil menanti pesawat menuju
Kupang, terdapat segerombolan turis lokal menghampiri warung di mana saya
berada. Mereka juga menunggu pesawat yang sesuai jadwal sekitar 2 jam lagi akan
berangkat. Warung tersebut tepat berada di kawasan bandara, kurang lebih 100
meter jarak antara muka pintu dengan warung itu. Jadi di warung inilah tempat
berkumpul para penumpang Bandara Mali yang tidak mendapat tempat di ruang
tunggu Bandara.
Di antara serombongan turis lokal
tersebut, terdapat 2 anak perempuan kecil perawakan kulit putih. Oh mungkin
saja salah satu dari orangtua anak tersebut adalah orang lokal Indonesia.
Mungkin si bapak itu, yang berulang kali memanggil kedua anak tersebut untuk
mau dipangku dan tidak duduk jauh-jauh darinya, adalah ayah mereka. Ujarku
dalam hati. Tapi kedua anak itu menggelengkan kepala dan tetap duduk agak jauh.
Oh mungkin mereka sedang ngambek sama ayahnya, ujarku lagi dalam hati.
Tiba-tiba sesosok wanita perawakan kulit
putih, datang menghampiri ke warung sambil membawa 1 tas koper besar dan
berkata kepada salah satu rombongan turis lokal bahwa ia baru saja selesai
check-in dengan antrean yang begitu panjang yang ia harus lalui. Lalu ia
berbicara kepada dua anak tersebut dengan dialek bahasa Perancis (yang saya
agak mengerti sedikit-sedikit), bertanya apakah mereka sudah makan. Kedua anak
tersebut menggeleng dan tetap duduk tenggelam di meja warung. Seorang bapak
yang tadi berbicara kepada dua anak tersebut berkata kepada wanita itu dalam
bahasa Inggris kalau anak-anak wanita itu tidak menurut kepadanya untuk memesan
makanan ataupun duduk di dekatnya, bahkan untuk dipeluk pun anak-anak tersebut
tidak mau. Padahal itu wujud kita sayang mereka, ujar bapak itu. Beberapa
ibu-ibu lainnya yang ada dalam rombongan itu juga menyahut, “Mungkin anak-anak
itu sedang ngambek, jadi diam saja dan tidak mau disentuh.”
Sesaat aku mengamati rombongan itu,
ternyata bapak itu bukanlah ayah dan suami dari anak-anak dan wanita kulit
putih itu (yang mungkin berasal dari Perancis, yang saya kira dari percakapan
yang mereka gunakan). Wanita dan kedua anaknya adalah bagian dari rombongan
turis yang telah menikmati keindahan bawah laut Alor.
Yang aku kagumi dari kejadian itu adalah
kedua anak perempuan kecil tersebut tetap membatasi dan menjaga diri dari orang
asing ataupun orang yang baru ia kenal beberapa hari dalam kegiatan
berliburnya.
Hal ini jauh berbeda dari pemandangan
yang biasa saya amati sehari-hari di ruang publik. Di mana saya biasa melihat
anak kecil dengan mudahnya digendong, dipeluk, disentuh, dan dicubit pipinya
oleh orang lain yang bukan orangtuanya. Alasannya sederhana, karena anak itu
lucu dan menggemaskan jadi berhak diperlakukan seperti itu. Ahh... seringkali
aku melihat anak yang digendong dan dicubit banyak orang itu menangis, dan
barulah ia dikembalikan ke orangtuanya agar menjadi tenang kembali.
Bayangkan apabila Anda di posisi anak
tersebut. Anggap saja Anda adalah orang dewasa yang sudah berumur 20 tahun
lebih dan tiba-tiba ada orang asing yang menggendong, memeluk, menyentuh,
mencubit, dan bahkan menciumi pipi Anda dengan alasan Anda lucu dan
menggemaskan. Apa yang Anda rasakan? Kalau saya, pasti saya sudah gampar orang
tersebut tanpa ada maaf sebelum atau sesudahnya, untuk alasan apapun itu.
Karena diri saya bukanlah properti yang bisa diperlakukan seenaknya. Mungkin
saja hal yang merisikan ini dirasakan setiap anak kecil yang “berhak” digendong
dan dikuwel-kuwel oleh orang lain dengan alasan ia menggemaskan. Dan bisa jadi
lama kelamaan anak menjadi percaya bahwa sentuhan-sentuhan yang didapat adalah
sesuatu yang lazim. Jedaaaarr.......
Saya jadi ingat waktu kecil diberitahu
orangtua untuk tidak mudah berbicara sama orang asing. Begitu pun menurut saya
dengan urusan persentuhan ataupun gendong menggendong yang sebenarnya tidak
membuat nyaman si anak.
Seorang rekan pernah berkata ke saya, “Di
luar negeri, anak-anak sudah diajari bagaimana mereka menjaga tubuh mereka
bahkan berani untuk berkata tidak untuk sesuatu yang mereka tidak nyaman.”
Ahaa....mungkin hal ini yang dilakukan oleh kedua anak perempuan yang saya
ceritakan di awal. Mereka berani untuk berkata tidak dan menjauh dari orang
yang mereka tidak nyaman.
Alangkah baiknya apabila para orangtua
dan anak-anaknya dibekali pengetahuan bagaimana anak-anaknya bisa menjaga diri
mereka. Anak berhak berkata tidak dan menjauhi hal-hal yang membuat ia tidak nyaman, bukan berarti
ia tidak ramah atau tidak sopan. Namun lebih mengantisipasi diri mereka untuk
bisa menjaga diri khususnya dari para predator anak yang kian marak terjadi.
Berikut ini beberapa hal yang suka saya
bagikan ketika berkesempatan berbagi pengetahuan tentang menjaga tubuh dan
kesehatan alat reproduksi khususnya bagi anak dan remaja:
1.
Mendorong anak untuk mempercayai naluri mereka saat menghadapi kejadian/orang
yang tidak membuat nyaman diri mereka atau hal yang mereka rasa tidak benar.
Anak berhak untuk berkata tidak dan segera meninggalkan orang tersebut. Anak juga
perlu terbuka atau menceritakan hal-hal yang membuat ia tidak nyaman kepada
orangtua,
2. Tahu
kapan harus berbicara dengan orang asing. Ketika anak sedang bersama orangtua,
adalah waktu yang tepat anak dapat berbicara dengan orang asing karena Anda sebagai
orangtua turut mengawasi anak Anda. Tapi akan berbeda cerita apabila orang
asing mendekati anak Anda di luar pengawasan Anda, dan memberikan permen atau
beragam barang-barang lucu sehingga anak Anda tertarik pada orang asing
tersebut dan bersedia menuruti apa yang dikatakannya. Apalagi kalau sampai
orang itu meminta anak Anda untuk menjaga rahasia akan apa yang
diberikan/dilakukan ia kepada anak Anda. Dalam beberapa kasus, kecenderungannya
para predator anak akan berusaha mencari cara menarik perhatian anak dari
hal-hal/barang-barang yang disukai anak. Ingatkah Anda pada kasus Robot Gedek
yang modusnya selalu memberikan uang kepada anak untuk dijadikan alat pemuas
hasratnya,
3.
Adalah hal yang tidak lazim apabila orang menyentuh tubuh anak Anda dengan alasan
lucu atau menggemaskan. Tekankan pada anak Anda bahwa ada khususnya pada
daerah-daerah sensitif tidak boleh disentuh oleh orang lain, seperti daerah
dada, alat kelamin, pantat, maupun area muka. Apabila dilakukan pemeriksaan
dokter pun itu dengan pengawasan Anda.
Perlu diketahui bahwa anak Anda perlu
menjaga diri tidak hanya pada orang asing, namun pada orang yang sudah dikenal pun tetap perlu menjaga diri
(entah teman, kerabat, guru, office boy, supir, pembantu rumah tangga dan
orang-orang di sekitar anak Anda). Karena predator anak juga bisa merupakan orang terdekat anak Anda.
No comments:
Post a Comment