Tuesday, February 14, 2017

Ways to protect your children from abduction


Suatu siang yang terik, di mana saya sedang berteduh di warung depan Bandara Mali sambil menanti pesawat menuju Kupang, terdapat segerombolan turis lokal menghampiri warung di mana saya berada. Mereka juga menunggu pesawat yang sesuai jadwal sekitar 2 jam lagi akan berangkat. Warung tersebut tepat berada di kawasan bandara, kurang lebih 100 meter jarak antara muka pintu dengan warung itu. Jadi di warung inilah tempat berkumpul para penumpang Bandara Mali yang tidak mendapat tempat di ruang tunggu Bandara.

Di antara serombongan turis lokal tersebut, terdapat 2 anak perempuan kecil perawakan kulit putih. Oh mungkin saja salah satu dari orangtua anak tersebut adalah orang lokal Indonesia. Mungkin si bapak itu, yang berulang kali memanggil kedua anak tersebut untuk mau dipangku dan tidak duduk jauh-jauh darinya, adalah ayah mereka. Ujarku dalam hati. Tapi kedua anak itu menggelengkan kepala dan tetap duduk agak jauh. Oh mungkin mereka sedang ngambek sama ayahnya, ujarku lagi dalam hati. 

Tiba-tiba sesosok wanita perawakan kulit putih, datang menghampiri ke warung sambil membawa 1 tas koper besar dan berkata kepada salah satu rombongan turis lokal bahwa ia baru saja selesai check-in dengan antrean yang begitu panjang yang ia harus lalui. Lalu ia berbicara kepada dua anak tersebut dengan dialek bahasa Perancis (yang saya agak mengerti sedikit-sedikit), bertanya apakah mereka sudah makan. Kedua anak tersebut menggeleng dan tetap duduk tenggelam di meja warung. Seorang bapak yang tadi berbicara kepada dua anak tersebut berkata kepada wanita itu dalam bahasa Inggris kalau anak-anak wanita itu tidak menurut kepadanya untuk memesan makanan ataupun duduk di dekatnya, bahkan untuk dipeluk pun anak-anak tersebut tidak mau. Padahal itu wujud kita sayang mereka, ujar bapak itu. Beberapa ibu-ibu lainnya yang ada dalam rombongan itu juga menyahut, “Mungkin anak-anak itu sedang ngambek, jadi diam saja dan tidak mau disentuh.”

Sesaat aku mengamati rombongan itu, ternyata bapak itu bukanlah ayah dan suami dari anak-anak dan wanita kulit putih itu (yang mungkin berasal dari Perancis, yang saya kira dari percakapan yang mereka gunakan). Wanita dan kedua anaknya adalah bagian dari rombongan turis yang telah menikmati keindahan bawah laut Alor.

Yang aku kagumi dari kejadian itu adalah kedua anak perempuan kecil tersebut tetap membatasi dan menjaga diri dari orang asing ataupun orang yang baru ia kenal beberapa hari dalam kegiatan berliburnya.

Hal ini jauh berbeda dari pemandangan yang biasa saya amati sehari-hari di ruang publik. Di mana saya biasa melihat anak kecil dengan mudahnya digendong, dipeluk, disentuh, dan dicubit pipinya oleh orang lain yang bukan orangtuanya. Alasannya sederhana, karena anak itu lucu dan menggemaskan jadi berhak diperlakukan seperti itu. Ahh... seringkali aku melihat anak yang digendong dan dicubit banyak orang itu menangis, dan barulah ia dikembalikan ke orangtuanya agar menjadi tenang kembali.

Bayangkan apabila Anda di posisi anak tersebut. Anggap saja Anda adalah orang dewasa yang sudah berumur 20 tahun lebih dan tiba-tiba ada orang asing yang menggendong, memeluk, menyentuh, mencubit, dan bahkan menciumi pipi Anda dengan alasan Anda lucu dan menggemaskan. Apa yang Anda rasakan? Kalau saya, pasti saya sudah gampar orang tersebut tanpa ada maaf sebelum atau sesudahnya, untuk alasan apapun itu. Karena diri saya bukanlah properti yang bisa diperlakukan seenaknya. Mungkin saja hal yang merisikan ini dirasakan setiap anak kecil yang “berhak” digendong dan dikuwel-kuwel oleh orang lain dengan alasan ia menggemaskan. Dan bisa jadi lama kelamaan anak menjadi percaya bahwa sentuhan-sentuhan yang didapat adalah sesuatu yang lazim. Jedaaaarr.......

Saya jadi ingat waktu kecil diberitahu orangtua untuk tidak mudah berbicara sama orang asing. Begitu pun menurut saya dengan urusan persentuhan ataupun gendong menggendong yang sebenarnya tidak membuat nyaman si anak.

Seorang rekan pernah berkata ke saya, “Di luar negeri, anak-anak sudah diajari bagaimana mereka menjaga tubuh mereka bahkan berani untuk berkata tidak untuk sesuatu yang mereka tidak nyaman.” Ahaa....mungkin hal ini yang dilakukan oleh kedua anak perempuan yang saya ceritakan di awal. Mereka berani untuk berkata tidak dan menjauh dari orang yang mereka tidak nyaman.
Alangkah baiknya apabila para orangtua dan anak-anaknya dibekali pengetahuan bagaimana anak-anaknya bisa menjaga diri mereka. Anak berhak berkata tidak dan menjauhi hal-hal yang  membuat ia tidak nyaman, bukan berarti ia tidak ramah atau tidak sopan. Namun lebih mengantisipasi diri mereka untuk bisa menjaga diri khususnya dari para predator anak yang kian marak terjadi.

Berikut ini beberapa hal yang suka saya bagikan ketika berkesempatan berbagi pengetahuan tentang menjaga tubuh dan kesehatan alat reproduksi khususnya bagi anak dan remaja:

1. Mendorong anak untuk mempercayai naluri mereka saat menghadapi kejadian/orang yang tidak membuat nyaman diri mereka atau hal yang mereka rasa tidak benar. Anak berhak untuk berkata tidak dan segera meninggalkan orang tersebut. Anak juga perlu terbuka atau menceritakan hal-hal yang membuat ia tidak nyaman kepada orangtua,

2. Tahu kapan harus berbicara dengan orang asing. Ketika anak sedang bersama orangtua, adalah waktu yang tepat anak dapat berbicara dengan orang asing karena Anda sebagai orangtua turut mengawasi anak Anda. Tapi akan berbeda cerita apabila orang asing mendekati anak Anda di luar pengawasan Anda, dan memberikan permen atau beragam barang-barang lucu sehingga anak Anda tertarik pada orang asing tersebut dan bersedia menuruti apa yang dikatakannya. Apalagi kalau sampai orang itu meminta anak Anda untuk menjaga rahasia akan apa yang diberikan/dilakukan ia kepada anak Anda. Dalam beberapa kasus, kecenderungannya para predator anak akan berusaha mencari cara menarik perhatian anak dari hal-hal/barang-barang yang disukai anak. Ingatkah Anda pada kasus Robot Gedek yang modusnya selalu memberikan uang kepada anak untuk dijadikan alat pemuas hasratnya,

3. Adalah hal yang tidak lazim apabila orang menyentuh tubuh anak Anda dengan alasan lucu atau menggemaskan. Tekankan pada anak Anda bahwa ada khususnya pada daerah-daerah sensitif tidak boleh disentuh oleh orang lain, seperti daerah dada, alat kelamin, pantat, maupun area muka. Apabila dilakukan pemeriksaan dokter pun itu dengan pengawasan Anda.

Perlu diketahui bahwa anak Anda perlu menjaga diri tidak hanya pada orang asing, namun  pada orang yang sudah dikenal pun tetap perlu menjaga diri (entah teman, kerabat, guru, office boy, supir, pembantu rumah tangga dan orang-orang di sekitar anak Anda). Karena predator anak juga bisa merupakan orang terdekat anak Anda.


No comments:

Post a Comment