Wednesday, November 8, 2017

Mengalahkan ketakutan saya

Sabtu silam (4 November 2017), Gueari Galeri mendapat kesempatan untuk berbagi cerita sebagai galeri foto dan penerbit independen buku foto Indonesia di acara Djakarta Story Tellers (DST). Tawaran tersebut datang dari seorang teman saya bernama Ayu Kartika Dewi. Saya bertemu dengannya saat mengikuti lokakarya mediasi lintas agama di Yogyakarta. Ayu merupakan salah satu pendiri organisasi Sabang Merauke, yang mana ia juga tergabung dalam komunitas Djakarta Story Tellers. Singkat cerita, Djakarta Story Tellers adalah kegiatan pertemuan anak-anak muda professional usia 20-an hingga 30-an yang berkarya di berbagai bidang.

Tentu saja saya sangat antusias menyambut hal tersebut. Sangat senang bisa bergabung dan berkolaborasi dengan orang-orang yang melakukan kegiatan positif bagi Indonesia. Namun antusiasme saya tersebut cukup mengusik saya. Untuk pertama kalinya di hadapan publik saya berbicara mengenai apa itu Gueari Galeri. Selama ini, rekan saya lah, Andi Ari Setiadi, sebagai orang terdepan dalam menceritakan tentang Gueari Galeri ke banyak orang. Ia orang yang sangat spontan, vokal dan berani untuk berbicara dengan lantang kepada siapa saja termasuk orang yang baru pertama kali dijumpainya. Sedangkan saya selalu memikirkan apapun yang hendak saya lakukan, termasuk sekalipun berbicara dengan orang.

Bagi orang introvert seperti saya, membutuhkan usaha yang sangat besar dan persiapan yang lama untuk bisa bicara di depan khalayak ramai, termasuk saat di acara DST. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk presentasi di DST maksimal hanyalah 6 menit. Ya, 6 menit yang cukup membuat saya keringat dingin dan ingin pingsan rasanya. Saya lebih nyaman berdialog dengan diri saya sendiri dan Tuhan ataupun berinteraksi secara personal dibandingkan dalam kelompok besar orang.

Mungkin saja saya terlalu banyak pertimbangan, ya itulah saya. Saya coba memahami apa yang menjadi ketakutan untuk berhadapan dengan banyak orang. Perenungan ini membawa saya ke pengalaman saat masa sekolah dulu. Saat di usia sekolah, ketika berbicara saya cenderung bicara dengan sangat terlalu cepat sehingga sering kali membuat saya menjadi gagap. Kegagapan saya itulah yang kerap kali menjadi bahan bercanda oleh teman-teman saya. Luap tawa mereka semakin menjadi-jadi saat teman saya yang lain menirukan kegagapan saya. Awalnya saya merasa itu adalah hal yang lucu, tapi lama-kelamaan saya merasa it is not a joke. Saya tidak nyaman. Saya merasa dipermalukan. Dan saya sadar bahwa itu adalah bentuk perundungan (bullying). Hal inilah yang menjadikan saya lebih menutup diri dan memilih pertemanan dengan orang-orang yang hanya membuat saya nyaman. Saya menjadi tidak berani untuk berkenalan dengan orang baru ataupun akan berpikir seratus kali apabila diminta bicara di depan umum. Ketakutan akan anggapan orang tentang diri saya menentukan cara saya bertindak dan bertutur kata.

Baru-baru ini saya bertemu dengan salah satu teman masa sekolah dulu. Saat itu saya sedang membantu sebagai reporter di acara konferensi internasional. Ia menanyakan apa yang sedang saya lakukan di sana, sebelum saya jawab, ia menebak bahwa saya sedang bertugas sebagai penerjemah. Sebelum saya sempat menjawab lagi, ia langsung melanjutkan, “Emangnya lo bisa? bicara aja lo susah”. Saya coba mencairkan suasana sebelum mood saya memburuk, “Iya gue penerjemah Rusia hehehe,” saya menimpalinya. Tidak lama kemudian, saya meninggalkannya.

Beberapa hari sebelum acara DST, Ari membantu saya menyiapkan presentasi. Saya menyusun teks dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang akan saya ujarkan selama 6 menit, dan berusaha menghafal apa yang akan saya ucapkan nanti. Saya juga belajar bagaimana berkata-kata terutama untuk diri saya memahami apa yang saya ucapkan. Saya belajar bagaimana berujar dengan artikulasi yang jelas. Saya belajar bagaimana mengucapkan kalimat dengan santai dan tidak terburu-buru. Memang membutuhkan usaha yang besar bagi saya yang suka dengan proses yang cepat sehingga tergambar melalui cara bicara saya yang cepat dan singkat.

Alhasil, saya bisa menaklukkan ketakutan saya untuk bicara di depan banyak orang. Bagi saya itu adalah sebuah langkah kedua yang besar, setelah saya berkesempatan membacakan cerita pendek di acara Pekan Seni Melawan Kekerasan Seksual (AOA Space, Yogyakarya), di hadapan anak-anak muda lainnya. Dan setelah semua presentasi DST selesai, saya coba memberanikan diri untuk bisa mingle dengan anak-anak muda lainnya, berkenalan dan bercerita secara personal tentang apa yang ia dan saya lakukan. Salah satunya saya berkenalan dengan Greysia Poliii, seorang perempuan yang inspiratif dalam dunia olahraga badminton. Yang baru-baru ini bersama rekannya, Apriyani Rahayu, berhasil menjuarai French Open Super Series 2017. Ia bercerita bahwa saat karantina berlangsung, ia tidak boleh memegang handphone sehingga menutup akses dari dunia luar dan ia hanya mendengarkan apa yang pelatihnya katakan. Hal ini dimaksudkan agar ia fokus dengan apa yang ia kerjakan dan akan capai tanpa terusik ujaran positif maupun negatif dari banyak orang. Ya, ujaran negatif dapat mematahkan asa sedangkan ujaran positif dapat melambungkan rasa hingga dapat terbuai.

Mungkin bagi orang lain, bicara di depan umum adalah hal yang sepele.
“Masa lo ngomong di depan banyak orang, ngga bisa.”
“Ah lo cuma kenalan aja susah.”
“Sombong banget sih lo, diem aja, ngga mau nge-blend sama yang lain.”
 “Emangnya lo bisa bicara?”
“Ah, ribet lo kebanyakan mikir.”

Ya, saya terlalu takut. Saya terlalu memikirkan apa penilaian orang lain atas diri saya. Namun saya semakin belajar, saya harus mengalahkan ketakutan saya. Saya bisa melebihi apa yang saya pikirkan, dan saya tidak mau membatasi diri saya. Ketika saya membatasi diri saya, berarti saya membatasi karunia dan rencana yang Tuhan sudah berikan kepada saya.

Mengutip kata Agnes Monica, “It’s not about me. Tapi pada saat saya bilang I know I can do it, because I know I have a God who can.”

Terima Djakarta Story Tellers atas kesempatannya. Terima kasih Ari atas kepercayaannya. And thank God for your blessings :)