Monday, January 8, 2018

Menyesap Buku Foto


Buku foto Indonesia semakin bersinar. Kata-kata tersebut semakin berdengung di telinga saya kian kemari. Jumlah buku foto yang diterbitkan di Indonesia semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini. Bagi seseorang yang mengitahkan dirinya seorang fotografer profesional maupun non-fotografer, semakin berani bertutur melalui medium visual dan mengemasnya menjadi buku foto. Gueari Galeri, salah satu pemain buku Foto Indonesia, hadir sebagai penerbit independen yang mendukung pertumbuhan buku foto yang dibuat oleh orang Indonesia ataupun yang menyajikan tema tentang Indonesia.

Perbincangan maupun perdebatan tentang berbagai buku foto, kian digiatkan oleh banyak orang maupun komunitas. Begitu juga dengan pro dan kontra bagaimana membuat buku foto yang baik atau selayaknya. Bagi saya tidak ada yang salah atau pun benar untuk setiap orang memahami atau menilai sebuah buku foto.

Menurut saya, buku foto Indonesia telah lahir kembali menyesuaikan dengan jamannya. Lahir dengan berbagai bentuk dan tema yang segar. Memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Namun saya yang awam bersentuhan dengan buku foto, ibarat seorang bayi yang baru lahir dan pertama kali menyesap air susu ibu. Yang pada tahap perkembangannya, bayi memperoleh kepuasan melalui oral. Ia tidak hanya memelajari hal sekitar melalui apa yang dilihatnya, namun berusaha meraih dan mencerupnya. Tak terkecuali makanan lunak, solid, ataupun benda-benda yang tak seharusnya dicecap. Dari situlah, ia belajar mengenal dan memahami dunia.

Setahun belakangan, saya melihat proses perkembangan keponakan saya. Saat ia pertama kali diluncurkan ke dunia hingga ia dibebat, saat ia pertama kali mencoba merangkak hingga berjalan dengan teroleng-oleng. Dengan tangan mungilnya, ia berusaha meraih segala benda didekatnya yang menarik perhatiannya, melemparkannya, menggenggamnya kembali, dan mencoba mencerupnya. Melepehnya dengan segera hal-hal yang tidak disukanya ataupun tetap mengisap dan menelannya. Ia jadi paham, bahwa zat lunak encer nan berlendir dan berwarna merah yang bernama pepaya adalah makanan yang disukainya. Ia tahu bahwa bebatuan merah yang tergantung di cuping telinga saya adalah anting-anting yang tak seharusnya ia sesap.

Begitu juga dengan menikmati buku foto. Semua buku foto yang ada, pantas untuk dikonsumsi. Tidak ada yang lebih baik atau tidak berguna. Semua buku foto memiliki perannya masing-masing. Bagi saya buku foto tidak hanya bisa dipuaskan dengan sebatas dipandang saja. Ia harus diraih, disentuh, dirasa setiap sudut maupun lembar per lembarnya. Menikmati permukaan sampul depan yang timbul ke luar atau dalam, jenis dan warna kertas yang menyajikan rasa berbeda pada foto yang tercetak, desain kemasan dan ukuran buku ataupun manuver lipatan kertas pada setiap halamannya yang memberikan sensasi berbeda. Yang tidak mungkin kita dapatkan hanya dengan menggeser-geser telunjuk tangan dari kanan ke kiri atau bawah ke atas, menyentuh layar yang bersinar untuk menikmati susunan foto yang berbentuk e-book.

Dalam menikmati buku foto, segala pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki turut mempengaruhi pemilihan dan penilaian kita atas buku foto yang kita kecap. Misalnya dalam memandang suatu buku foto yang sama, latar belakang psikologi yang saya miliki akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda dengan orang yang berlatar belakang geologi atau hukum atau pedagang satay atau nelayan yang lebih banyak berkutat dengan laut dan ikan.

Seperti anak teman saya yang berusia dua tahun. Bersama orangtuanya, ia tumbuh dan besar di suatu pulau yang terekspos pantai. Ia banyak menghabiskan waktunya di pasir berbatu karang, yang menyatu dengan laut. Ia berkembang dengan logat ke bali-balian, meskipun kedua orangtunya lahir dan besar di Jakarta. Saat ia bertemu saya, ia menunjukkan pada saya beberapa benda keras yang serupa dengan batu (meskipun ada yang bukan batu), dan ia mengatakannya dengan terbata-bata bahwa benda itu adalah batu, dengan logatnya yang khas.

Oleh karena itu, dalam proses memahami buku foto, latar belakang psikologi turut mendorong saya untuk selalu kepo siapa pengarya buku foto (personal) yang saya sesap. Bagaimana sang pengarya tumbuh hingga pergulatan batinnya sehingga ia dapat menghasilkan foto-foto yang ada dan menyusunnya menjadi suatu tema tertentu. Karena saya yakin, buku foto yang lebih personal adalah kepingan dari gambar keseluruhan identitas, karakter, atau sejarah sang pengarya. Meskipun simbol  pada foto-foto yang dihadirkan bisa secara tersurat maupun tersirat.

Akhir kata, untuk bisa lebih memahami buku foto, banyak-banyaklah menyesapnya sebelum masa menyapih datang karena tidak bisa mengakses buku foto yang pernah ada.


Wednesday, November 8, 2017

Mengalahkan ketakutan saya

Sabtu silam (4 November 2017), Gueari Galeri mendapat kesempatan untuk berbagi cerita sebagai galeri foto dan penerbit independen buku foto Indonesia di acara Djakarta Story Tellers (DST). Tawaran tersebut datang dari seorang teman saya bernama Ayu Kartika Dewi. Saya bertemu dengannya saat mengikuti lokakarya mediasi lintas agama di Yogyakarta. Ayu merupakan salah satu pendiri organisasi Sabang Merauke, yang mana ia juga tergabung dalam komunitas Djakarta Story Tellers. Singkat cerita, Djakarta Story Tellers adalah kegiatan pertemuan anak-anak muda professional usia 20-an hingga 30-an yang berkarya di berbagai bidang.

Tentu saja saya sangat antusias menyambut hal tersebut. Sangat senang bisa bergabung dan berkolaborasi dengan orang-orang yang melakukan kegiatan positif bagi Indonesia. Namun antusiasme saya tersebut cukup mengusik saya. Untuk pertama kalinya di hadapan publik saya berbicara mengenai apa itu Gueari Galeri. Selama ini, rekan saya lah, Andi Ari Setiadi, sebagai orang terdepan dalam menceritakan tentang Gueari Galeri ke banyak orang. Ia orang yang sangat spontan, vokal dan berani untuk berbicara dengan lantang kepada siapa saja termasuk orang yang baru pertama kali dijumpainya. Sedangkan saya selalu memikirkan apapun yang hendak saya lakukan, termasuk sekalipun berbicara dengan orang.

Bagi orang introvert seperti saya, membutuhkan usaha yang sangat besar dan persiapan yang lama untuk bisa bicara di depan khalayak ramai, termasuk saat di acara DST. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk presentasi di DST maksimal hanyalah 6 menit. Ya, 6 menit yang cukup membuat saya keringat dingin dan ingin pingsan rasanya. Saya lebih nyaman berdialog dengan diri saya sendiri dan Tuhan ataupun berinteraksi secara personal dibandingkan dalam kelompok besar orang.

Mungkin saja saya terlalu banyak pertimbangan, ya itulah saya. Saya coba memahami apa yang menjadi ketakutan untuk berhadapan dengan banyak orang. Perenungan ini membawa saya ke pengalaman saat masa sekolah dulu. Saat di usia sekolah, ketika berbicara saya cenderung bicara dengan sangat terlalu cepat sehingga sering kali membuat saya menjadi gagap. Kegagapan saya itulah yang kerap kali menjadi bahan bercanda oleh teman-teman saya. Luap tawa mereka semakin menjadi-jadi saat teman saya yang lain menirukan kegagapan saya. Awalnya saya merasa itu adalah hal yang lucu, tapi lama-kelamaan saya merasa it is not a joke. Saya tidak nyaman. Saya merasa dipermalukan. Dan saya sadar bahwa itu adalah bentuk perundungan (bullying). Hal inilah yang menjadikan saya lebih menutup diri dan memilih pertemanan dengan orang-orang yang hanya membuat saya nyaman. Saya menjadi tidak berani untuk berkenalan dengan orang baru ataupun akan berpikir seratus kali apabila diminta bicara di depan umum. Ketakutan akan anggapan orang tentang diri saya menentukan cara saya bertindak dan bertutur kata.

Baru-baru ini saya bertemu dengan salah satu teman masa sekolah dulu. Saat itu saya sedang membantu sebagai reporter di acara konferensi internasional. Ia menanyakan apa yang sedang saya lakukan di sana, sebelum saya jawab, ia menebak bahwa saya sedang bertugas sebagai penerjemah. Sebelum saya sempat menjawab lagi, ia langsung melanjutkan, “Emangnya lo bisa? bicara aja lo susah”. Saya coba mencairkan suasana sebelum mood saya memburuk, “Iya gue penerjemah Rusia hehehe,” saya menimpalinya. Tidak lama kemudian, saya meninggalkannya.

Beberapa hari sebelum acara DST, Ari membantu saya menyiapkan presentasi. Saya menyusun teks dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang akan saya ujarkan selama 6 menit, dan berusaha menghafal apa yang akan saya ucapkan nanti. Saya juga belajar bagaimana berkata-kata terutama untuk diri saya memahami apa yang saya ucapkan. Saya belajar bagaimana berujar dengan artikulasi yang jelas. Saya belajar bagaimana mengucapkan kalimat dengan santai dan tidak terburu-buru. Memang membutuhkan usaha yang besar bagi saya yang suka dengan proses yang cepat sehingga tergambar melalui cara bicara saya yang cepat dan singkat.

Alhasil, saya bisa menaklukkan ketakutan saya untuk bicara di depan banyak orang. Bagi saya itu adalah sebuah langkah kedua yang besar, setelah saya berkesempatan membacakan cerita pendek di acara Pekan Seni Melawan Kekerasan Seksual (AOA Space, Yogyakarya), di hadapan anak-anak muda lainnya. Dan setelah semua presentasi DST selesai, saya coba memberanikan diri untuk bisa mingle dengan anak-anak muda lainnya, berkenalan dan bercerita secara personal tentang apa yang ia dan saya lakukan. Salah satunya saya berkenalan dengan Greysia Poliii, seorang perempuan yang inspiratif dalam dunia olahraga badminton. Yang baru-baru ini bersama rekannya, Apriyani Rahayu, berhasil menjuarai French Open Super Series 2017. Ia bercerita bahwa saat karantina berlangsung, ia tidak boleh memegang handphone sehingga menutup akses dari dunia luar dan ia hanya mendengarkan apa yang pelatihnya katakan. Hal ini dimaksudkan agar ia fokus dengan apa yang ia kerjakan dan akan capai tanpa terusik ujaran positif maupun negatif dari banyak orang. Ya, ujaran negatif dapat mematahkan asa sedangkan ujaran positif dapat melambungkan rasa hingga dapat terbuai.

Mungkin bagi orang lain, bicara di depan umum adalah hal yang sepele.
“Masa lo ngomong di depan banyak orang, ngga bisa.”
“Ah lo cuma kenalan aja susah.”
“Sombong banget sih lo, diem aja, ngga mau nge-blend sama yang lain.”
 “Emangnya lo bisa bicara?”
“Ah, ribet lo kebanyakan mikir.”

Ya, saya terlalu takut. Saya terlalu memikirkan apa penilaian orang lain atas diri saya. Namun saya semakin belajar, saya harus mengalahkan ketakutan saya. Saya bisa melebihi apa yang saya pikirkan, dan saya tidak mau membatasi diri saya. Ketika saya membatasi diri saya, berarti saya membatasi karunia dan rencana yang Tuhan sudah berikan kepada saya.

Mengutip kata Agnes Monica, “It’s not about me. Tapi pada saat saya bilang I know I can do it, because I know I have a God who can.”

Terima Djakarta Story Tellers atas kesempatannya. Terima kasih Ari atas kepercayaannya. And thank God for your blessings :)





Tuesday, February 14, 2017

Ways to protect your children from abduction


Suatu siang yang terik, di mana saya sedang berteduh di warung depan Bandara Mali sambil menanti pesawat menuju Kupang, terdapat segerombolan turis lokal menghampiri warung di mana saya berada. Mereka juga menunggu pesawat yang sesuai jadwal sekitar 2 jam lagi akan berangkat. Warung tersebut tepat berada di kawasan bandara, kurang lebih 100 meter jarak antara muka pintu dengan warung itu. Jadi di warung inilah tempat berkumpul para penumpang Bandara Mali yang tidak mendapat tempat di ruang tunggu Bandara.

Di antara serombongan turis lokal tersebut, terdapat 2 anak perempuan kecil perawakan kulit putih. Oh mungkin saja salah satu dari orangtua anak tersebut adalah orang lokal Indonesia. Mungkin si bapak itu, yang berulang kali memanggil kedua anak tersebut untuk mau dipangku dan tidak duduk jauh-jauh darinya, adalah ayah mereka. Ujarku dalam hati. Tapi kedua anak itu menggelengkan kepala dan tetap duduk agak jauh. Oh mungkin mereka sedang ngambek sama ayahnya, ujarku lagi dalam hati. 

Tiba-tiba sesosok wanita perawakan kulit putih, datang menghampiri ke warung sambil membawa 1 tas koper besar dan berkata kepada salah satu rombongan turis lokal bahwa ia baru saja selesai check-in dengan antrean yang begitu panjang yang ia harus lalui. Lalu ia berbicara kepada dua anak tersebut dengan dialek bahasa Perancis (yang saya agak mengerti sedikit-sedikit), bertanya apakah mereka sudah makan. Kedua anak tersebut menggeleng dan tetap duduk tenggelam di meja warung. Seorang bapak yang tadi berbicara kepada dua anak tersebut berkata kepada wanita itu dalam bahasa Inggris kalau anak-anak wanita itu tidak menurut kepadanya untuk memesan makanan ataupun duduk di dekatnya, bahkan untuk dipeluk pun anak-anak tersebut tidak mau. Padahal itu wujud kita sayang mereka, ujar bapak itu. Beberapa ibu-ibu lainnya yang ada dalam rombongan itu juga menyahut, “Mungkin anak-anak itu sedang ngambek, jadi diam saja dan tidak mau disentuh.”

Sesaat aku mengamati rombongan itu, ternyata bapak itu bukanlah ayah dan suami dari anak-anak dan wanita kulit putih itu (yang mungkin berasal dari Perancis, yang saya kira dari percakapan yang mereka gunakan). Wanita dan kedua anaknya adalah bagian dari rombongan turis yang telah menikmati keindahan bawah laut Alor.

Yang aku kagumi dari kejadian itu adalah kedua anak perempuan kecil tersebut tetap membatasi dan menjaga diri dari orang asing ataupun orang yang baru ia kenal beberapa hari dalam kegiatan berliburnya.

Hal ini jauh berbeda dari pemandangan yang biasa saya amati sehari-hari di ruang publik. Di mana saya biasa melihat anak kecil dengan mudahnya digendong, dipeluk, disentuh, dan dicubit pipinya oleh orang lain yang bukan orangtuanya. Alasannya sederhana, karena anak itu lucu dan menggemaskan jadi berhak diperlakukan seperti itu. Ahh... seringkali aku melihat anak yang digendong dan dicubit banyak orang itu menangis, dan barulah ia dikembalikan ke orangtuanya agar menjadi tenang kembali.

Bayangkan apabila Anda di posisi anak tersebut. Anggap saja Anda adalah orang dewasa yang sudah berumur 20 tahun lebih dan tiba-tiba ada orang asing yang menggendong, memeluk, menyentuh, mencubit, dan bahkan menciumi pipi Anda dengan alasan Anda lucu dan menggemaskan. Apa yang Anda rasakan? Kalau saya, pasti saya sudah gampar orang tersebut tanpa ada maaf sebelum atau sesudahnya, untuk alasan apapun itu. Karena diri saya bukanlah properti yang bisa diperlakukan seenaknya. Mungkin saja hal yang merisikan ini dirasakan setiap anak kecil yang “berhak” digendong dan dikuwel-kuwel oleh orang lain dengan alasan ia menggemaskan. Dan bisa jadi lama kelamaan anak menjadi percaya bahwa sentuhan-sentuhan yang didapat adalah sesuatu yang lazim. Jedaaaarr.......

Saya jadi ingat waktu kecil diberitahu orangtua untuk tidak mudah berbicara sama orang asing. Begitu pun menurut saya dengan urusan persentuhan ataupun gendong menggendong yang sebenarnya tidak membuat nyaman si anak.

Seorang rekan pernah berkata ke saya, “Di luar negeri, anak-anak sudah diajari bagaimana mereka menjaga tubuh mereka bahkan berani untuk berkata tidak untuk sesuatu yang mereka tidak nyaman.” Ahaa....mungkin hal ini yang dilakukan oleh kedua anak perempuan yang saya ceritakan di awal. Mereka berani untuk berkata tidak dan menjauh dari orang yang mereka tidak nyaman.
Alangkah baiknya apabila para orangtua dan anak-anaknya dibekali pengetahuan bagaimana anak-anaknya bisa menjaga diri mereka. Anak berhak berkata tidak dan menjauhi hal-hal yang  membuat ia tidak nyaman, bukan berarti ia tidak ramah atau tidak sopan. Namun lebih mengantisipasi diri mereka untuk bisa menjaga diri khususnya dari para predator anak yang kian marak terjadi.

Berikut ini beberapa hal yang suka saya bagikan ketika berkesempatan berbagi pengetahuan tentang menjaga tubuh dan kesehatan alat reproduksi khususnya bagi anak dan remaja:

1. Mendorong anak untuk mempercayai naluri mereka saat menghadapi kejadian/orang yang tidak membuat nyaman diri mereka atau hal yang mereka rasa tidak benar. Anak berhak untuk berkata tidak dan segera meninggalkan orang tersebut. Anak juga perlu terbuka atau menceritakan hal-hal yang membuat ia tidak nyaman kepada orangtua,

2. Tahu kapan harus berbicara dengan orang asing. Ketika anak sedang bersama orangtua, adalah waktu yang tepat anak dapat berbicara dengan orang asing karena Anda sebagai orangtua turut mengawasi anak Anda. Tapi akan berbeda cerita apabila orang asing mendekati anak Anda di luar pengawasan Anda, dan memberikan permen atau beragam barang-barang lucu sehingga anak Anda tertarik pada orang asing tersebut dan bersedia menuruti apa yang dikatakannya. Apalagi kalau sampai orang itu meminta anak Anda untuk menjaga rahasia akan apa yang diberikan/dilakukan ia kepada anak Anda. Dalam beberapa kasus, kecenderungannya para predator anak akan berusaha mencari cara menarik perhatian anak dari hal-hal/barang-barang yang disukai anak. Ingatkah Anda pada kasus Robot Gedek yang modusnya selalu memberikan uang kepada anak untuk dijadikan alat pemuas hasratnya,

3. Adalah hal yang tidak lazim apabila orang menyentuh tubuh anak Anda dengan alasan lucu atau menggemaskan. Tekankan pada anak Anda bahwa ada khususnya pada daerah-daerah sensitif tidak boleh disentuh oleh orang lain, seperti daerah dada, alat kelamin, pantat, maupun area muka. Apabila dilakukan pemeriksaan dokter pun itu dengan pengawasan Anda.

Perlu diketahui bahwa anak Anda perlu menjaga diri tidak hanya pada orang asing, namun  pada orang yang sudah dikenal pun tetap perlu menjaga diri (entah teman, kerabat, guru, office boy, supir, pembantu rumah tangga dan orang-orang di sekitar anak Anda). Karena predator anak juga bisa merupakan orang terdekat anak Anda.


Wednesday, February 1, 2017

PANAS PADAT, AGRESIVITAS MENINGKAT?



Suatu siang, seorang sahabat yang kedekatan saya dan dirinya sudah terjalin sejak duduk di bangku kuliah hingga sekarang, tiba-tiba menelponku,

“Caruuun, aku kangen dirimu”, katanya dengan suara imut

“Ini siapa yah?”, jawabku karena hampir tidak mengenali suaranya yang dibuat super imut nan unyu hingga aku terbayang pada tokoh hamster bernama Hamtaro dengan pipinya yang gembul menggemaskan,

Akhirnya sahabatku itu, mengubah suaranya menjadi yang biasaku dengar, tegas, jelas, dan agak berat. Ia berkata kepadaku kalau ia sekarang sedang di Jayapura. Sebagai konsultan di salah satu LSM yang fokus pada pengembangan anak-anak muda, ia ditugaskan untuk pergi mengambil data pada salah satu daerah di Indonesia.

Baru dua hari ia menginjakkan tanah Papua dan ia mengeluhkan tidak ada sinyal pada gawainya terlebih lagi untuk mengirim surel pada rekan kerjanya di pusat ibukota.

“Gue ngga apa-apa ga bisa update di media sosial, seengganya untuk kirim e-mail. Untuk bisa gunain whatsapp aja sinyalnya muncul dan tenggelam. Aaargh..... Ditambah Run, gue bete banget kemarin naik bus turunnya agak jauh dari hotel tempat gue nginep dan akhirnya gue jalan kaki di siang hari yang panasnya supeeer terik. Alhasil sampai di hotel, mata gue berkunang-kunang lama banget, kepala gue keliyengan saking panasnya. Dan gue butuh beberapa lama untuk nenangin diri sebelum gue meeting.”

“I feel you sist,” jawabku segera.

“Iya Run, gue jadi keinget kata-kata lo. Dulu lo pernah bilang bisa ngga daerah yang cuacanya panas banget bisa buat emosi seseorang turun naik, bawaannya pengen berantem?”

Saya jadi kembali teringat di awal tahun 2011. Saya berkesempatan ke Wasior, salah satu daerah di Papua Barat yang baru-baru itu terkena banjir bandang. Saat itu, saya dan beberapa teman-teman kuliah yang berasal dari Papua mewakili kampus untuk mengadakan bakti sosial di sana.

Sebagai anak yang tumbuh dan besar di ibukota dengan segala kemudahan akses yang ada, secara biologis dan psikologis juga membentuk diriku menyesuaikan dengan lingkungan setempat. Sehingga perubahan kondisi lingkungan dari ibukota ke daerah pedalaman, turut membuat perubahan pada tubuh dan emosi saya untuk bisa beradaptasi.

Matahari tidak hanya senantiasa menyinari daerah Wasior, namun suhunya yang mendidih juga menembus permukaan kulitku hingga membuat kulitku terkelupas hingga terluka. Tubuhku juga melakukan caranya sendiri untuk beradaptasi dengan mengeluarkan butir-butir keringat yang jumlahnya sangat besar hingga membuatku sering dehidrasi. Ditambah saat itu, jumlah air bersih sangatlah terbatas dan musti berjalan cukup jauh untuk mengambil air di sungai. Kesemua hal itu juga berimbas pada emosi saya yang teraduk-aduk.

Hingga pada suatu hari, saat kita sudah selesai dengan kegiatan bakti sosial dan ingin berkeliling kota, di tengah jalan saya melihat seorang pria dan wanita berjalan dengan kaki telanjang di pinggir jalan. Sang perempuan dengan noken yang tergantung di dahi kepalanya berjalan dengan tenang. Ia terlihat tidak menghiraukan sang pria yang sedang mengacungkan golok di tangannya sambil berusaha mendorong perempuan tersebut berkali-kali yang terlihat sangat marah kepada perempuan di sampingnya itu.

“Ah su biasa itu”, ujar pengemudi mobil kami sambil mengemudikan mobil dengan tenang, “Itu su biasa suami istri bakalai di tengah jalan.”

Lumayan terkejut aku mendengar pernyatannya. Bagaimana mungkin hal itu menjadi suatu pemandangan yang biasa?

Akhirnya, ingatan saya pun membuka laci memori saya di tahun 2015 saat saya pertama kali mengikuti kegiatan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau di salah satu Kepulauan Seribu yaitu Pulau Panggang. Ya, pulau yang tidak hanya panas namun juga terpadat pemukimannya dibanding pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu. Saking padatnya, penduduk setempat pun melakukan reklamasi secara mandiri dengan menumpuk beragam sampah agar membentuk daratan baru untuk dihuni. Hingga berdampak pada krisisnya air bersih. Saking krisisnya air, jangankan payau, air bersih yang saya pakai untuk mandipun rasanya asin hingga sabun di tubuh saya tidak hilang bahkan semakin digosok semakin licin cin cin....

Anyway, saat itu saya tidak bertugas menjadi pengajar namun jadi fotografer. Memutuskan untuk jadi fotografer karena saya ingin observasi dari satu kelas ke kelas lainnya melihat bagaimana teman-teman pengajar membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para murid di sekolah setempat.

Akhirnya untuk bisa meliput beberapa pengajar, saya pun keluar masuk di setiap kelas, dan mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dan menangani para murid.

Hal yang mengejutkan bagi saya adalah banyak murid-murid SD di sana yang begitu mudahnya bertengkar dan langsung main pukul. Mungkin istilah yang tepat ialah bersumbu pendek. Hanya kesenggol sedikit karena tidak sengaja, eh teman yang tersenggolnya itu langsung marah, melotot, lalu dorong-dorongan dan pada akhirnya pukul-pukulan dengan cukup keras. Dan hal itu tidak hanya terjadi 1 atau 2 kali. Saya pun jadi lebih sering melerai anak-anak yang berantem dan saking banyaknya anak yang bertikai, akhirnya lama-lama saya memotret mereka sedang berkelahi karena setelah saya melerai yang satu, eh yang lainnya ada yang mulai berantem.

Hmmmm, melihat perilaku tersebut saya jadi teringat percobaan yang dilakukan John B. Calhoun, seorang berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai peneliti perilaku manusia dan lingkungannya, yang melihat akibat kepadatan pada populasi tikus. Hasilnya, dengan adanya pertumbuhan populasi yang tidak terkendali mengakibatkan penurunan fungsi organ tubuh seperi hati, otak, dan ginjal, yang akhirnya dapat menurunkan fertilitas, sakit hingga kematian. Di samping itu, timbulnya perilaku seperti hiperaktif, binatang pengerat tersebut saling menggigit hingga kanibalisme (video percobaannya, Mouse Utopia Experiment dapat dilihat pada tautan berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=0Z760XNy4VM&feature=youtu.be). Begitu pula halnya dengan Dubos, yang mengobservasi pengaruh kepadatan populasi pada tikus-tikus got yang menceburkan diri ke laut karena adanya penyimpangan perilaku yang dipengaruhi oleh otak para micky mouse tersebut.

Sedangkan observasi oleh Bell, yang melihat dampak kepadatan populasi pada manusia. Hasilnya pun sama, terdapat penurunan kesehatan karena meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung. Adapun bila populasi manusia teramat sangat padat, bisa menurunkan agresivitas hingga berkurangnya minat berkomunikasi dan saling tolong menolong. Hmmm, apakah gambaran ini bisa mewakili karakteristik sebagian besar warga Jakarta?


Namun apakah peningkatan agresivitas hanya terjadi pada daerah yang panas dan padat populasinya? Lalu bagaimana bila daerah yang populasinya padat namun hawanya dingin? dan begitu sebaliknya. Apakah agresivitas masih tetap muncul?

Yah semoga kesimpulan saya dari kejadian-kejadian yang pernah saya alami mengenai panas dan padatnya suatu daerah dapat meningkatkan agresivitas, hanyalah hipotesa saya semata. Karena seperti yang diajarkan dalam Sejatining Ngaurip untuk selalu menumbuhkan asah-asuh-asih dalam berkehidupan. Masa manusia mau disamakan dengan tikus  :p