Wednesday, February 1, 2017

PANAS PADAT, AGRESIVITAS MENINGKAT?



Suatu siang, seorang sahabat yang kedekatan saya dan dirinya sudah terjalin sejak duduk di bangku kuliah hingga sekarang, tiba-tiba menelponku,

“Caruuun, aku kangen dirimu”, katanya dengan suara imut

“Ini siapa yah?”, jawabku karena hampir tidak mengenali suaranya yang dibuat super imut nan unyu hingga aku terbayang pada tokoh hamster bernama Hamtaro dengan pipinya yang gembul menggemaskan,

Akhirnya sahabatku itu, mengubah suaranya menjadi yang biasaku dengar, tegas, jelas, dan agak berat. Ia berkata kepadaku kalau ia sekarang sedang di Jayapura. Sebagai konsultan di salah satu LSM yang fokus pada pengembangan anak-anak muda, ia ditugaskan untuk pergi mengambil data pada salah satu daerah di Indonesia.

Baru dua hari ia menginjakkan tanah Papua dan ia mengeluhkan tidak ada sinyal pada gawainya terlebih lagi untuk mengirim surel pada rekan kerjanya di pusat ibukota.

“Gue ngga apa-apa ga bisa update di media sosial, seengganya untuk kirim e-mail. Untuk bisa gunain whatsapp aja sinyalnya muncul dan tenggelam. Aaargh..... Ditambah Run, gue bete banget kemarin naik bus turunnya agak jauh dari hotel tempat gue nginep dan akhirnya gue jalan kaki di siang hari yang panasnya supeeer terik. Alhasil sampai di hotel, mata gue berkunang-kunang lama banget, kepala gue keliyengan saking panasnya. Dan gue butuh beberapa lama untuk nenangin diri sebelum gue meeting.”

“I feel you sist,” jawabku segera.

“Iya Run, gue jadi keinget kata-kata lo. Dulu lo pernah bilang bisa ngga daerah yang cuacanya panas banget bisa buat emosi seseorang turun naik, bawaannya pengen berantem?”

Saya jadi kembali teringat di awal tahun 2011. Saya berkesempatan ke Wasior, salah satu daerah di Papua Barat yang baru-baru itu terkena banjir bandang. Saat itu, saya dan beberapa teman-teman kuliah yang berasal dari Papua mewakili kampus untuk mengadakan bakti sosial di sana.

Sebagai anak yang tumbuh dan besar di ibukota dengan segala kemudahan akses yang ada, secara biologis dan psikologis juga membentuk diriku menyesuaikan dengan lingkungan setempat. Sehingga perubahan kondisi lingkungan dari ibukota ke daerah pedalaman, turut membuat perubahan pada tubuh dan emosi saya untuk bisa beradaptasi.

Matahari tidak hanya senantiasa menyinari daerah Wasior, namun suhunya yang mendidih juga menembus permukaan kulitku hingga membuat kulitku terkelupas hingga terluka. Tubuhku juga melakukan caranya sendiri untuk beradaptasi dengan mengeluarkan butir-butir keringat yang jumlahnya sangat besar hingga membuatku sering dehidrasi. Ditambah saat itu, jumlah air bersih sangatlah terbatas dan musti berjalan cukup jauh untuk mengambil air di sungai. Kesemua hal itu juga berimbas pada emosi saya yang teraduk-aduk.

Hingga pada suatu hari, saat kita sudah selesai dengan kegiatan bakti sosial dan ingin berkeliling kota, di tengah jalan saya melihat seorang pria dan wanita berjalan dengan kaki telanjang di pinggir jalan. Sang perempuan dengan noken yang tergantung di dahi kepalanya berjalan dengan tenang. Ia terlihat tidak menghiraukan sang pria yang sedang mengacungkan golok di tangannya sambil berusaha mendorong perempuan tersebut berkali-kali yang terlihat sangat marah kepada perempuan di sampingnya itu.

“Ah su biasa itu”, ujar pengemudi mobil kami sambil mengemudikan mobil dengan tenang, “Itu su biasa suami istri bakalai di tengah jalan.”

Lumayan terkejut aku mendengar pernyatannya. Bagaimana mungkin hal itu menjadi suatu pemandangan yang biasa?

Akhirnya, ingatan saya pun membuka laci memori saya di tahun 2015 saat saya pertama kali mengikuti kegiatan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau di salah satu Kepulauan Seribu yaitu Pulau Panggang. Ya, pulau yang tidak hanya panas namun juga terpadat pemukimannya dibanding pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu. Saking padatnya, penduduk setempat pun melakukan reklamasi secara mandiri dengan menumpuk beragam sampah agar membentuk daratan baru untuk dihuni. Hingga berdampak pada krisisnya air bersih. Saking krisisnya air, jangankan payau, air bersih yang saya pakai untuk mandipun rasanya asin hingga sabun di tubuh saya tidak hilang bahkan semakin digosok semakin licin cin cin....

Anyway, saat itu saya tidak bertugas menjadi pengajar namun jadi fotografer. Memutuskan untuk jadi fotografer karena saya ingin observasi dari satu kelas ke kelas lainnya melihat bagaimana teman-teman pengajar membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para murid di sekolah setempat.

Akhirnya untuk bisa meliput beberapa pengajar, saya pun keluar masuk di setiap kelas, dan mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dan menangani para murid.

Hal yang mengejutkan bagi saya adalah banyak murid-murid SD di sana yang begitu mudahnya bertengkar dan langsung main pukul. Mungkin istilah yang tepat ialah bersumbu pendek. Hanya kesenggol sedikit karena tidak sengaja, eh teman yang tersenggolnya itu langsung marah, melotot, lalu dorong-dorongan dan pada akhirnya pukul-pukulan dengan cukup keras. Dan hal itu tidak hanya terjadi 1 atau 2 kali. Saya pun jadi lebih sering melerai anak-anak yang berantem dan saking banyaknya anak yang bertikai, akhirnya lama-lama saya memotret mereka sedang berkelahi karena setelah saya melerai yang satu, eh yang lainnya ada yang mulai berantem.

Hmmmm, melihat perilaku tersebut saya jadi teringat percobaan yang dilakukan John B. Calhoun, seorang berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai peneliti perilaku manusia dan lingkungannya, yang melihat akibat kepadatan pada populasi tikus. Hasilnya, dengan adanya pertumbuhan populasi yang tidak terkendali mengakibatkan penurunan fungsi organ tubuh seperi hati, otak, dan ginjal, yang akhirnya dapat menurunkan fertilitas, sakit hingga kematian. Di samping itu, timbulnya perilaku seperti hiperaktif, binatang pengerat tersebut saling menggigit hingga kanibalisme (video percobaannya, Mouse Utopia Experiment dapat dilihat pada tautan berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=0Z760XNy4VM&feature=youtu.be). Begitu pula halnya dengan Dubos, yang mengobservasi pengaruh kepadatan populasi pada tikus-tikus got yang menceburkan diri ke laut karena adanya penyimpangan perilaku yang dipengaruhi oleh otak para micky mouse tersebut.

Sedangkan observasi oleh Bell, yang melihat dampak kepadatan populasi pada manusia. Hasilnya pun sama, terdapat penurunan kesehatan karena meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung. Adapun bila populasi manusia teramat sangat padat, bisa menurunkan agresivitas hingga berkurangnya minat berkomunikasi dan saling tolong menolong. Hmmm, apakah gambaran ini bisa mewakili karakteristik sebagian besar warga Jakarta?


Namun apakah peningkatan agresivitas hanya terjadi pada daerah yang panas dan padat populasinya? Lalu bagaimana bila daerah yang populasinya padat namun hawanya dingin? dan begitu sebaliknya. Apakah agresivitas masih tetap muncul?

Yah semoga kesimpulan saya dari kejadian-kejadian yang pernah saya alami mengenai panas dan padatnya suatu daerah dapat meningkatkan agresivitas, hanyalah hipotesa saya semata. Karena seperti yang diajarkan dalam Sejatining Ngaurip untuk selalu menumbuhkan asah-asuh-asih dalam berkehidupan. Masa manusia mau disamakan dengan tikus  :p


No comments:

Post a Comment