Suatu siang, seorang sahabat yang kedekatan saya dan
dirinya sudah terjalin sejak duduk di bangku kuliah hingga sekarang, tiba-tiba
menelponku,
“Caruuun, aku kangen dirimu”, katanya dengan suara
imut
“Ini siapa yah?”, jawabku karena hampir tidak
mengenali suaranya yang dibuat super imut nan unyu hingga aku terbayang pada tokoh
hamster bernama Hamtaro dengan pipinya yang gembul menggemaskan,
Akhirnya sahabatku itu, mengubah suaranya menjadi
yang biasaku dengar, tegas, jelas, dan agak berat. Ia berkata kepadaku kalau ia
sekarang sedang di Jayapura. Sebagai konsultan di salah satu LSM yang fokus
pada pengembangan anak-anak muda, ia ditugaskan untuk pergi mengambil data pada
salah satu daerah di Indonesia.
Baru dua hari ia menginjakkan tanah Papua dan ia
mengeluhkan tidak ada sinyal pada gawainya terlebih lagi untuk mengirim surel
pada rekan kerjanya di pusat ibukota.
“Gue ngga apa-apa ga bisa update di media sosial,
seengganya untuk kirim e-mail. Untuk bisa gunain whatsapp aja sinyalnya muncul
dan tenggelam. Aaargh..... Ditambah Run, gue bete banget kemarin naik bus
turunnya agak jauh dari hotel tempat gue nginep dan akhirnya gue jalan kaki di
siang hari yang panasnya supeeer terik. Alhasil sampai di hotel, mata gue berkunang-kunang
lama banget, kepala gue keliyengan saking panasnya. Dan gue butuh beberapa lama
untuk nenangin diri sebelum gue meeting.”
“I feel you sist,” jawabku segera.
“Iya Run, gue jadi keinget kata-kata lo. Dulu lo
pernah bilang bisa ngga daerah yang cuacanya panas banget bisa buat emosi
seseorang turun naik, bawaannya pengen berantem?”
Saya jadi kembali teringat di awal tahun 2011. Saya
berkesempatan ke Wasior, salah satu daerah di Papua Barat yang baru-baru itu
terkena banjir bandang. Saat itu, saya dan beberapa teman-teman kuliah yang
berasal dari Papua mewakili kampus untuk mengadakan bakti sosial di sana.
Sebagai anak yang tumbuh dan besar di ibukota dengan
segala kemudahan akses yang ada, secara biologis dan psikologis juga membentuk
diriku menyesuaikan dengan lingkungan setempat. Sehingga perubahan kondisi
lingkungan dari ibukota ke daerah pedalaman, turut membuat perubahan pada tubuh
dan emosi saya untuk bisa beradaptasi.
Matahari tidak hanya senantiasa menyinari daerah
Wasior, namun suhunya yang mendidih juga menembus permukaan kulitku hingga
membuat kulitku terkelupas hingga terluka. Tubuhku juga melakukan caranya
sendiri untuk beradaptasi dengan mengeluarkan butir-butir keringat yang
jumlahnya sangat besar hingga membuatku sering dehidrasi. Ditambah saat itu,
jumlah air bersih sangatlah terbatas dan musti berjalan cukup jauh untuk
mengambil air di sungai. Kesemua hal itu juga berimbas pada emosi saya yang
teraduk-aduk.
Hingga pada suatu hari, saat kita sudah selesai
dengan kegiatan bakti sosial dan ingin berkeliling kota, di tengah jalan saya
melihat seorang pria dan wanita berjalan dengan kaki telanjang di pinggir
jalan. Sang perempuan dengan noken yang tergantung di dahi kepalanya berjalan
dengan tenang. Ia terlihat tidak menghiraukan sang pria yang sedang
mengacungkan golok di tangannya sambil berusaha mendorong perempuan tersebut
berkali-kali yang terlihat sangat marah kepada perempuan di sampingnya itu.
“Ah su biasa itu”, ujar pengemudi mobil kami sambil
mengemudikan mobil dengan tenang, “Itu su biasa suami istri bakalai di tengah jalan.”
Lumayan terkejut aku mendengar pernyatannya.
Bagaimana mungkin hal itu menjadi suatu pemandangan yang biasa?
Akhirnya, ingatan saya pun membuka laci memori saya
di tahun 2015 saat saya pertama kali mengikuti kegiatan Komunitas Inspirasi
Jelajah Pulau di salah satu Kepulauan Seribu yaitu Pulau Panggang. Ya, pulau yang
tidak hanya panas namun juga terpadat pemukimannya dibanding pulau-pulau
lainnya di Kepulauan Seribu. Saking padatnya, penduduk setempat pun melakukan
reklamasi secara mandiri dengan menumpuk beragam sampah agar membentuk daratan
baru untuk dihuni. Hingga berdampak pada krisisnya air bersih. Saking krisisnya
air, jangankan payau, air bersih yang saya pakai untuk mandipun rasanya asin
hingga sabun di tubuh saya tidak hilang bahkan semakin digosok semakin licin
cin cin....
Anyway, saat itu saya tidak bertugas menjadi pengajar
namun jadi fotografer. Memutuskan untuk jadi fotografer karena saya ingin
observasi dari satu kelas ke kelas lainnya melihat bagaimana teman-teman
pengajar membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para murid di sekolah
setempat.
Akhirnya untuk bisa meliput beberapa pengajar, saya
pun keluar masuk di setiap kelas, dan mendapat kesempatan untuk melihat
bagaimana mereka berinteraksi dan menangani para murid.
Hal yang mengejutkan bagi saya adalah banyak
murid-murid SD di sana yang begitu mudahnya bertengkar dan langsung main pukul.
Mungkin istilah yang tepat ialah bersumbu pendek. Hanya kesenggol sedikit
karena tidak sengaja, eh teman yang tersenggolnya itu langsung marah, melotot,
lalu dorong-dorongan dan pada akhirnya pukul-pukulan dengan cukup keras. Dan hal
itu tidak hanya terjadi 1 atau 2 kali. Saya pun jadi lebih sering melerai
anak-anak yang berantem dan saking banyaknya anak yang bertikai, akhirnya
lama-lama saya memotret mereka sedang berkelahi karena setelah saya melerai
yang satu, eh yang lainnya ada yang mulai berantem.
Hmmmm, melihat perilaku tersebut saya jadi teringat
percobaan yang dilakukan John B. Calhoun, seorang berkebangsaan Amerika yang
berprofesi sebagai peneliti perilaku manusia dan lingkungannya, yang melihat
akibat kepadatan pada populasi tikus. Hasilnya, dengan adanya pertumbuhan
populasi yang tidak terkendali mengakibatkan penurunan fungsi organ tubuh
seperi hati, otak, dan ginjal, yang akhirnya dapat menurunkan fertilitas, sakit
hingga kematian. Di samping itu, timbulnya perilaku seperti hiperaktif, binatang pengerat tersebut saling menggigit hingga kanibalisme
(video percobaannya, Mouse Utopia
Experiment dapat dilihat pada tautan berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=0Z760XNy4VM&feature=youtu.be).
Begitu pula halnya dengan Dubos, yang mengobservasi pengaruh kepadatan populasi
pada tikus-tikus got yang menceburkan diri ke laut karena adanya penyimpangan
perilaku yang dipengaruhi oleh otak para micky mouse tersebut.
Sedangkan observasi oleh Bell, yang melihat dampak
kepadatan populasi pada manusia. Hasilnya pun sama, terdapat penurunan
kesehatan karena meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung. Adapun bila
populasi manusia teramat sangat padat, bisa menurunkan agresivitas hingga
berkurangnya minat berkomunikasi dan saling tolong menolong. Hmmm, apakah
gambaran ini bisa mewakili karakteristik sebagian besar warga Jakarta?
Namun apakah peningkatan agresivitas hanya terjadi pada
daerah yang panas dan padat populasinya? Lalu bagaimana bila daerah yang
populasinya padat namun hawanya dingin? dan begitu sebaliknya. Apakah
agresivitas masih tetap muncul?
Yah semoga kesimpulan saya dari kejadian-kejadian
yang pernah saya alami mengenai panas dan padatnya suatu daerah dapat
meningkatkan agresivitas, hanyalah hipotesa saya semata. Karena seperti yang
diajarkan dalam Sejatining Ngaurip
untuk selalu menumbuhkan asah-asuh-asih
dalam berkehidupan. Masa manusia mau disamakan dengan tikus :p
No comments:
Post a Comment