Di atas dipan itu, Mulyani mulai menghisap rokok kedua. Sambil menunggu pelanggan selanjutnya, ia berusaha mengingat kenangan-kenangan lama agar tetap merasa awet muda.
Dalam bedeng yang temaram itu, ia tak sendiri. Kecoa, kalajengking, tikus hanyalah sedikit dari banyaknya penghuni tetap. Mulyani sudah bersahabat dengan semua itu. Lagipula apa yang ditakutkan oleh seorang wanita ketika ia pernah mengalami penyiksaan terkelam.
Cap Eks Tahanan yang melekat pada KTP-nya hanyalah jejak suram dari sejarah hidupnya. Sudah lama ia tak wajib lapor. Anggap saja wanita yang bernama Rustami sudah mati, ujarnya. Lagipula di sini hanyalah tempat ia singgah. Sudah tak ada lagi kata pulang, mau pulang ke mana? Baginya, kediaman yang ia tempati hanyalah sementara. Tak terhitung seringnya ia berganti nama dan berpindah-pindah tempat, agar bisa menjadi bagian dari warga setempat. Tapi percuma, kapan seorang lonte dianggap oleh masyarakat. Namun ia tetap mengingat perkataan ibunya, seorang lonte melakukan pekerjaan yang terhormat. Mulyani lalu teringat ketika pertama kali ia diciduk oleh aparat.
Waktu itu semasa kepemimpinan presiden pertama, Mulyani bersama teman-teman perempuannya senang sekali menari lagu genjer-genjer, nadanya sangat indah didendangkan, apalagi diiringi dengan gamelan.
………
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego
………
Dalam bedeng yang temaram itu, ia tak sendiri. Kecoa, kalajengking, tikus hanyalah sedikit dari banyaknya penghuni tetap. Mulyani sudah bersahabat dengan semua itu. Lagipula apa yang ditakutkan oleh seorang wanita ketika ia pernah mengalami penyiksaan terkelam.
Cap Eks Tahanan yang melekat pada KTP-nya hanyalah jejak suram dari sejarah hidupnya. Sudah lama ia tak wajib lapor. Anggap saja wanita yang bernama Rustami sudah mati, ujarnya. Lagipula di sini hanyalah tempat ia singgah. Sudah tak ada lagi kata pulang, mau pulang ke mana? Baginya, kediaman yang ia tempati hanyalah sementara. Tak terhitung seringnya ia berganti nama dan berpindah-pindah tempat, agar bisa menjadi bagian dari warga setempat. Tapi percuma, kapan seorang lonte dianggap oleh masyarakat. Namun ia tetap mengingat perkataan ibunya, seorang lonte melakukan pekerjaan yang terhormat. Mulyani lalu teringat ketika pertama kali ia diciduk oleh aparat.
Waktu itu semasa kepemimpinan presiden pertama, Mulyani bersama teman-teman perempuannya senang sekali menari lagu genjer-genjer, nadanya sangat indah didendangkan, apalagi diiringi dengan gamelan.
………
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Setengah mateng dientas yo dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco
Genjer-genjer dipangan musuhe sego
………
Ia dan teman-temannya sering menari ketika sore menjelang malam, untuk memikat para lelaki. Namun tiba-tiba segerombolan petugas berseragam hijau bercak coklat datang dan menyuruh mereka untuk cepat-cepat naik ke pikap, menuju suatu tempat yang tak mereka ketahui. Tak ada yang berani buka mulut, mereka menuruti tanpa mengerti.
Akhirnya sampailah mereka di markas militer. Di sana ternyata sudah ada tahanan lain yang diinterogasi oleh petugas setempat. Mulyani dan teman-temannya disuruh melucutkan seluruh pakaian mereka di depan banyak petugas laki-laki dan naik ke atas meja, dengan alasan para petugas mencari cap di paha sebagai tanda yang umumnya dimiliki oleh anggota Gerwani. Gerwani itu apa? Baru pertama kali Mulyani mendengar kata itu. Tubuhnya bergetar tak tertahan, meskipun ia sudah seringkali telanjang di hadapan lawan jenis namun timbul rasa takut dari dalam dirinya yang tak pernah ada sebelumnya. Apalagi ia akan disiksa apabila tidak mau mengaku sebagai anggota Gerwani dan terlibat dalam pesta seks di daerah Lubang Buaya.
“Lubang Buaya saja saya tidak tahu tempatnya, Pak”, ujar Mulyani sambil terisak-isak berharap air matanya dapat menyingkap kabut di hati para petugas.
Braaaakkkk
Ditendangnya tubuh Mulyani sehingga terhempas ke dinding ruang interogasi, beberapa saat ia tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Mulyani kembali diperiksa. Kali ini para interogator menyuruhnya telanjang dan duduk berpangkuan dengan lelaki yang juga telanjang, hingga beberapa hari. Sambil memeriksa, tangan sang interogator menggerayangi tubuh Mulyani. Ia benar-benar merasakan
energinya sangat terkuras. Tubuhnya benar-benar menegang dan gemetar tak karuan, menangis hingga air matanya tak dapat keluar, menahan rasa pilu yang menyesakkan dadanya. Apa salahnya sehingga ia diperlakukan semena-mena. Ia pun tak pernah bermimpi untuk melewati jalan hidup yang seperti ini. Kalaupun ini hanya mimpi, ia berharap segera bangun dan melupakan semua mimpi buruk yang terjadi.
“Kamu memang pantas diperlakukan seperti ini, karena para pembe-rontak lebih rendah daripada pelacur. Kamu pengkhianat Pancasila!” bisik sang interogator dengan garang. “Saya bukan pemberontak!” ge-ram Mulyani. Lalu rambut Mulyani dijambak dan ia dipaksa menciumi alat kelamin para petugas yang ada di ruangan itu satu per satu, sambil kepalanya ditekan-tekan. Mulyani pun semakin terisak, hatinya sangat tertusuk. Meskipun ia bukan anggota Gerwani, namun bukan berarti seorang pelacur tidak mempunyai harga diri.
Ibu..Ibu mengapa engkau begitu cepat meninggalkanku, saat aku benar-benar membutuhkanmu. Aku ingin pulang ke rahimmu, yang memberikanku kehangatan.
Suatu malam, Mulyani dipanggil. Kali ini Mulyani harus mengaku kalau ia dapat mengokang bedil.
“Ampun Gusti, saya tidak pernah melihatnya apalagi memegangnya,” ujarnya sambil sedikit berteriak. Mulyani sudah benar-benar naik pitam melihat kelakuan pihak berwenang yang sewenang-wenang. Petugas mengambil sapu di pojok ruangan dan memasukkan gagang sapu ke alat kelamin Mulyani, setiap kali ia melontarkan jawaban yang tak sesuai harapan sang interogator. Siksaan demi siksaan membuat Mulyani pasrah akan takdir hidupnya dan berharap Tuhan dapat mengambil jiwanya saat itu juga.
Tak lama setelah peritiwa itu dan kurang lebih sudah sebulan lamanya Mulyani berada di “rumah neraka”, ia dan para perempuan lainnya ak-hirnya dipindahkan ke Penjara Bukit Duri. Di sana ia bertemu banyak para anggota Gerwani yang menjadi tahanan politik (tapol). Mereka kebanyakan adalah orang-orang terpelajar. Kekaguman Mulyani kepada para anggota Gerwani terkikis oleh keheranannya, mengapa para wanita terpelajar itu ikut ditahan bersamanya dan para tahanan kriminal.
Akhirnya sampailah mereka di markas militer. Di sana ternyata sudah ada tahanan lain yang diinterogasi oleh petugas setempat. Mulyani dan teman-temannya disuruh melucutkan seluruh pakaian mereka di depan banyak petugas laki-laki dan naik ke atas meja, dengan alasan para petugas mencari cap di paha sebagai tanda yang umumnya dimiliki oleh anggota Gerwani. Gerwani itu apa? Baru pertama kali Mulyani mendengar kata itu. Tubuhnya bergetar tak tertahan, meskipun ia sudah seringkali telanjang di hadapan lawan jenis namun timbul rasa takut dari dalam dirinya yang tak pernah ada sebelumnya. Apalagi ia akan disiksa apabila tidak mau mengaku sebagai anggota Gerwani dan terlibat dalam pesta seks di daerah Lubang Buaya.
“Lubang Buaya saja saya tidak tahu tempatnya, Pak”, ujar Mulyani sambil terisak-isak berharap air matanya dapat menyingkap kabut di hati para petugas.
Braaaakkkk
Ditendangnya tubuh Mulyani sehingga terhempas ke dinding ruang interogasi, beberapa saat ia tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Mulyani kembali diperiksa. Kali ini para interogator menyuruhnya telanjang dan duduk berpangkuan dengan lelaki yang juga telanjang, hingga beberapa hari. Sambil memeriksa, tangan sang interogator menggerayangi tubuh Mulyani. Ia benar-benar merasakan
energinya sangat terkuras. Tubuhnya benar-benar menegang dan gemetar tak karuan, menangis hingga air matanya tak dapat keluar, menahan rasa pilu yang menyesakkan dadanya. Apa salahnya sehingga ia diperlakukan semena-mena. Ia pun tak pernah bermimpi untuk melewati jalan hidup yang seperti ini. Kalaupun ini hanya mimpi, ia berharap segera bangun dan melupakan semua mimpi buruk yang terjadi.
“Kamu memang pantas diperlakukan seperti ini, karena para pembe-rontak lebih rendah daripada pelacur. Kamu pengkhianat Pancasila!” bisik sang interogator dengan garang. “Saya bukan pemberontak!” ge-ram Mulyani. Lalu rambut Mulyani dijambak dan ia dipaksa menciumi alat kelamin para petugas yang ada di ruangan itu satu per satu, sambil kepalanya ditekan-tekan. Mulyani pun semakin terisak, hatinya sangat tertusuk. Meskipun ia bukan anggota Gerwani, namun bukan berarti seorang pelacur tidak mempunyai harga diri.
Ibu..Ibu mengapa engkau begitu cepat meninggalkanku, saat aku benar-benar membutuhkanmu. Aku ingin pulang ke rahimmu, yang memberikanku kehangatan.
Suatu malam, Mulyani dipanggil. Kali ini Mulyani harus mengaku kalau ia dapat mengokang bedil.
“Ampun Gusti, saya tidak pernah melihatnya apalagi memegangnya,” ujarnya sambil sedikit berteriak. Mulyani sudah benar-benar naik pitam melihat kelakuan pihak berwenang yang sewenang-wenang. Petugas mengambil sapu di pojok ruangan dan memasukkan gagang sapu ke alat kelamin Mulyani, setiap kali ia melontarkan jawaban yang tak sesuai harapan sang interogator. Siksaan demi siksaan membuat Mulyani pasrah akan takdir hidupnya dan berharap Tuhan dapat mengambil jiwanya saat itu juga.
Tak lama setelah peritiwa itu dan kurang lebih sudah sebulan lamanya Mulyani berada di “rumah neraka”, ia dan para perempuan lainnya ak-hirnya dipindahkan ke Penjara Bukit Duri. Di sana ia bertemu banyak para anggota Gerwani yang menjadi tahanan politik (tapol). Mereka kebanyakan adalah orang-orang terpelajar. Kekaguman Mulyani kepada para anggota Gerwani terkikis oleh keheranannya, mengapa para wanita terpelajar itu ikut ditahan bersamanya dan para tahanan kriminal.
Semakin lama ia hidup bersama para anggota Gerwani, ia semakin memahami hak hidup sebagai manusia khususnya sebagai perempuan. Gerwani yang aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak perempuan, namun sekarang hak mereka sudah tercabik-cabik akibat tuduhan mencungkil mata dan memotong kelamin para jenderal. Mulyani semakin lama semakin merasa menjadi bagian dari tubuh Gerwani karena mereka sadar akan diri Mulyani yang melacur bukan murni atas kesalahannya. Bagi Gerwani, pelacuran akan lenyap apabila paham sosialisme dipraktikkan. Mulyani sering tersenyum geli ketika para perempuan tersebut mengobrol urusan politik, banyak hal yang ia tak mengerti.
Suatu pagi, seorang tahanan perempuan baru dimasukkan ke Penjara Bukit Duri. Sambil menyiapkan makanan bagi para tahanan, Mulyani melihat perempuan itu dengan seksama. Tak heran banyak tahanan lain yang turut memperhatikan gerak gerik perempuan tersebut. Perempuan itu menangis sambil meronta-ronta dan menjerit-jerit histeris selama perjalanan dari gerbang penjara menuju ke selnya. Dan alhasil, petugas pun menghajarnya sampai pingsan.
Malam harinya, Ami, nama perempuan yang berteriak histeris, akhirnya siuman dan ia pun kembali berteriak-teriak menyumpahi para petugas yang berjaga. “Salah saya apa, bajingaaan”. Kata-katanya membuat gerah para petugas dan akhirnya Ami di-bon[1].
Keesokan paginya, Mulyani mendatangi sel tempat Ami ditahan namun Ami belum kembali atau mungkin ia tidak akan pernah kembali. Seperti banyak tahanan perempuan lainnya yang sampai saat ini menghilang tanpa jejak, di-game[2] lebih tepatnya. Tanpa ada surat penahanan, dakwaan, ataupun proses pengadilan, para petugas bisa melakukan apa saja menurut kepantasannya, demi mengamankan negara, kata mereka.
Mulyani penasaran dengan keberadaan Ami, ia mencoba cari cara agar bisa melewati koridor sel Ami. Akhirnya ia berbicara kepada petugas bahwa ia ingin membantu tahanan lainnya mengolahgatot[3], yang entah sudah berapa lama tersimpan di gudang, untuk makan malam. Ketika Mulyani hampir mendekati sel Ami, ia mengintip. Namun Mulyani terkejut ketika Ami sudah duduk di dalam selnya, memancarkan tatapan mata yang kosong sambil menghadap ke tembok dan mengulangi kata-kata yang samar terdengar oleh Mulyani. Seperti orang sedang mengaji, dengan tubuh yang digerakkan ke depan dan ke belakang secara terus menerus, tidak berubah posisi. Rasa ngeri menyelimuti diri Mulyani, ia akhirnya mempercepat langkahnya menuju dapur umum.
Keesokan paginya, beredar kabar di antara para tahanan bahwa Ami kesurupan, tidak bisa diajak bicara dan sering bicara sendiri. Mulyani penasaran dan pergi ke sel Ami. Ia kembali menemukan Ami pada posisi duduk dan gerakan yang sama seperti kemarin. Mulyani masuk ke sel Ami yang terbuka, ia mendekati Ami. Dilihatnya bibir keringnya yang komat-kamit, mengeluarkan suara yang tidak jelas, tatapan matanya yang kosong, dan aroma yang tak sedap pada diri Ami karena air kemihnya bertumpah ruah tidak dibersihkan. Garis alis Ami yang menjuntai ke atas terlihat seperti kepunyaan sang ibu sehingga memunculkan rasa sayang Mulyani pada dirinya. Lalu dirangkulnya tubuh Ami dan diangkat berjalan menuju kakus.
Hidup Mulyani berubah, ia merasa berarti semenjak kehadiran Ami. Hari-harinya selalu dilewati bersama Ami. Mulyani bahkan memandikan, menyuapinya makan, dan mengajaknya ngobrol, walau seringkali Ami menjadi teman ngobrol yang pasif.
Alih-alih banyak tahanan yang mengeluh karena susahnya hidup di penjara, namun tidak dengan Mulyani. Ia semakin bersemangat bangun pagi untuk segera bertemu dengan Ami. Namun suatu hari, ia tidak mendapati Ami di selnya. Kata Suratih, salah satu tahanan yang satu sel dengan Ami, mengatakan bahwa Ami semalam dibawa oleh petugas entah kemana dan belum kembali sampai sekarang. Mulyani meneteskan air mata tanpa suara. Berhari-hari, ia tak nafsu makan. Inilah kehilangannya yang kedua semenjak ibunya mati.
Hari-hari berlalu dan sampailah pada suatu waktu bahwa para tapol perempuan golongan B akan dipindahkan ke daerah sejuk di kota Semarang. Tanpa tahu kapan ini semua akan berakhir, Mulyani tegak berjalan menyusuri lorong bersama puluhan tapol lainnya menuju bus yang sudah menunggu. Banyak orang sudah menunggu di luar penjara, menanti sejak semalam suntuk karena tidak tahu kapan saudara mereka akan di-berangkatkan. Haru biru terjadi di antara para tapol dengan keluarganyayang datang. Tidak ada satupun wajah yang Mulyani kenal, tidak ada yang perlu ia tangisi. Ia hanya menangis ketika berpisah dengan para tahanan lainnya yang masih tinggal di Penjara Bukit Duri, yaitu keluarga sementaranya.
Di lembah Gunung Prahu, kabut tebal menutupi sebuah kompleks di Desa Plantungan. Hembusan angin dari arah tenggara cukup kuat untuk menggoyangkan tubuh Mulyani bersama 499 tahanan politik perempuan lainnya. Mereka berjalan menyusuri kebun bunga yang indah menuju Kamp Plantungan, tempat persinggahan berikutnya. Yang Mulyani dan para tapol perempuan tahu, Plantungan dulunya merupakan rumah sakit khusus untuk penderita lepra yang di dalamnya terdapat kamp-kamp isolasi. Kesunyian dan keterasingan tempat itu membuat Mulyani merasakan apa yang dirasakan para penderita lepra, kehilangan harapan akan masa depan, tanpa tahu kapan mereka akan bebas dari tempat tersebut. Dan akhirnya sekarang, tempat ini digunakan untuk menyembuhkan lepraisme dalam otak Gerwani dan antek-antek PKI agar menjadi warga Indonesia yang lebih pancasilais.
Bertahun-tahun, Mulyani dan para tapol perempuan lainnya hidup bersama di kamp tersebut. Segala pekerjaan yang kasar sekalipun, dilakoni setiap tapol perempuan yang ada di kamp tersebut. Sudah tak terhitung seringnya Mulyani dan para tapol tersengat hewan-hewan liar, seperti kalajengking dan ular berbisa. Berkat bantuan Dr. Sumiyarsi, yang dikenal sebagai “dokter lubang buaya”, turut menyembuhkan beberapa sakit penyakit yang tidak hanya diderita para tapol perempuan namun juga penduduk di sekitar kamp tersebut, namun tidak dengan sakit kanker yang telah merenggut nyawa 2 tapol perempuan.
Banyak teman-teman Mulyani yang tetap tegar untuk bertahan hidup di kamp tersebut berharap mereka masih dapat melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, namun banyak juga yang sudah pasrah menunggu ajal menjemput. Mulyani salah satu yang pasrah. Pembinaan mental di kamp Plantungan agar nantinya dapat kembali ke masyarakat, dinilainya sebagai bentuk penindasan halus. Ia bersama beberapa teman-temannya akhirnya membuat nisan yang dibuat dari kayu dan kemudian menancapkan di tanah kosong belakang bangunan kamp dekat Kali Lampir. Mempersiapkan tempat untuk tubuhnya berbaring dalam kematian.
Suatu pagi, seorang tahanan perempuan baru dimasukkan ke Penjara Bukit Duri. Sambil menyiapkan makanan bagi para tahanan, Mulyani melihat perempuan itu dengan seksama. Tak heran banyak tahanan lain yang turut memperhatikan gerak gerik perempuan tersebut. Perempuan itu menangis sambil meronta-ronta dan menjerit-jerit histeris selama perjalanan dari gerbang penjara menuju ke selnya. Dan alhasil, petugas pun menghajarnya sampai pingsan.
Malam harinya, Ami, nama perempuan yang berteriak histeris, akhirnya siuman dan ia pun kembali berteriak-teriak menyumpahi para petugas yang berjaga. “Salah saya apa, bajingaaan”. Kata-katanya membuat gerah para petugas dan akhirnya Ami di-bon[1].
Keesokan paginya, Mulyani mendatangi sel tempat Ami ditahan namun Ami belum kembali atau mungkin ia tidak akan pernah kembali. Seperti banyak tahanan perempuan lainnya yang sampai saat ini menghilang tanpa jejak, di-game[2] lebih tepatnya. Tanpa ada surat penahanan, dakwaan, ataupun proses pengadilan, para petugas bisa melakukan apa saja menurut kepantasannya, demi mengamankan negara, kata mereka.
Mulyani penasaran dengan keberadaan Ami, ia mencoba cari cara agar bisa melewati koridor sel Ami. Akhirnya ia berbicara kepada petugas bahwa ia ingin membantu tahanan lainnya mengolahgatot[3], yang entah sudah berapa lama tersimpan di gudang, untuk makan malam. Ketika Mulyani hampir mendekati sel Ami, ia mengintip. Namun Mulyani terkejut ketika Ami sudah duduk di dalam selnya, memancarkan tatapan mata yang kosong sambil menghadap ke tembok dan mengulangi kata-kata yang samar terdengar oleh Mulyani. Seperti orang sedang mengaji, dengan tubuh yang digerakkan ke depan dan ke belakang secara terus menerus, tidak berubah posisi. Rasa ngeri menyelimuti diri Mulyani, ia akhirnya mempercepat langkahnya menuju dapur umum.
Keesokan paginya, beredar kabar di antara para tahanan bahwa Ami kesurupan, tidak bisa diajak bicara dan sering bicara sendiri. Mulyani penasaran dan pergi ke sel Ami. Ia kembali menemukan Ami pada posisi duduk dan gerakan yang sama seperti kemarin. Mulyani masuk ke sel Ami yang terbuka, ia mendekati Ami. Dilihatnya bibir keringnya yang komat-kamit, mengeluarkan suara yang tidak jelas, tatapan matanya yang kosong, dan aroma yang tak sedap pada diri Ami karena air kemihnya bertumpah ruah tidak dibersihkan. Garis alis Ami yang menjuntai ke atas terlihat seperti kepunyaan sang ibu sehingga memunculkan rasa sayang Mulyani pada dirinya. Lalu dirangkulnya tubuh Ami dan diangkat berjalan menuju kakus.
Hidup Mulyani berubah, ia merasa berarti semenjak kehadiran Ami. Hari-harinya selalu dilewati bersama Ami. Mulyani bahkan memandikan, menyuapinya makan, dan mengajaknya ngobrol, walau seringkali Ami menjadi teman ngobrol yang pasif.
Alih-alih banyak tahanan yang mengeluh karena susahnya hidup di penjara, namun tidak dengan Mulyani. Ia semakin bersemangat bangun pagi untuk segera bertemu dengan Ami. Namun suatu hari, ia tidak mendapati Ami di selnya. Kata Suratih, salah satu tahanan yang satu sel dengan Ami, mengatakan bahwa Ami semalam dibawa oleh petugas entah kemana dan belum kembali sampai sekarang. Mulyani meneteskan air mata tanpa suara. Berhari-hari, ia tak nafsu makan. Inilah kehilangannya yang kedua semenjak ibunya mati.
Hari-hari berlalu dan sampailah pada suatu waktu bahwa para tapol perempuan golongan B akan dipindahkan ke daerah sejuk di kota Semarang. Tanpa tahu kapan ini semua akan berakhir, Mulyani tegak berjalan menyusuri lorong bersama puluhan tapol lainnya menuju bus yang sudah menunggu. Banyak orang sudah menunggu di luar penjara, menanti sejak semalam suntuk karena tidak tahu kapan saudara mereka akan di-berangkatkan. Haru biru terjadi di antara para tapol dengan keluarganyayang datang. Tidak ada satupun wajah yang Mulyani kenal, tidak ada yang perlu ia tangisi. Ia hanya menangis ketika berpisah dengan para tahanan lainnya yang masih tinggal di Penjara Bukit Duri, yaitu keluarga sementaranya.
Di lembah Gunung Prahu, kabut tebal menutupi sebuah kompleks di Desa Plantungan. Hembusan angin dari arah tenggara cukup kuat untuk menggoyangkan tubuh Mulyani bersama 499 tahanan politik perempuan lainnya. Mereka berjalan menyusuri kebun bunga yang indah menuju Kamp Plantungan, tempat persinggahan berikutnya. Yang Mulyani dan para tapol perempuan tahu, Plantungan dulunya merupakan rumah sakit khusus untuk penderita lepra yang di dalamnya terdapat kamp-kamp isolasi. Kesunyian dan keterasingan tempat itu membuat Mulyani merasakan apa yang dirasakan para penderita lepra, kehilangan harapan akan masa depan, tanpa tahu kapan mereka akan bebas dari tempat tersebut. Dan akhirnya sekarang, tempat ini digunakan untuk menyembuhkan lepraisme dalam otak Gerwani dan antek-antek PKI agar menjadi warga Indonesia yang lebih pancasilais.
Bertahun-tahun, Mulyani dan para tapol perempuan lainnya hidup bersama di kamp tersebut. Segala pekerjaan yang kasar sekalipun, dilakoni setiap tapol perempuan yang ada di kamp tersebut. Sudah tak terhitung seringnya Mulyani dan para tapol tersengat hewan-hewan liar, seperti kalajengking dan ular berbisa. Berkat bantuan Dr. Sumiyarsi, yang dikenal sebagai “dokter lubang buaya”, turut menyembuhkan beberapa sakit penyakit yang tidak hanya diderita para tapol perempuan namun juga penduduk di sekitar kamp tersebut, namun tidak dengan sakit kanker yang telah merenggut nyawa 2 tapol perempuan.
Banyak teman-teman Mulyani yang tetap tegar untuk bertahan hidup di kamp tersebut berharap mereka masih dapat melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, namun banyak juga yang sudah pasrah menunggu ajal menjemput. Mulyani salah satu yang pasrah. Pembinaan mental di kamp Plantungan agar nantinya dapat kembali ke masyarakat, dinilainya sebagai bentuk penindasan halus. Ia bersama beberapa teman-temannya akhirnya membuat nisan yang dibuat dari kayu dan kemudian menancapkan di tanah kosong belakang bangunan kamp dekat Kali Lampir. Mempersiapkan tempat untuk tubuhnya berbaring dalam kematian.
Pada nisan itu, Mulyani menuliskan dengan arang.

Suatu hari, Mulyani dan beberapa tapol disuruh untuk membeli koper. Kemudian Mulyani diminta merapihkan semua barang kepunyaannya. Timbul perasaan bingung dan gundah, akan dibawa ke mana lagi Mulyani dan teman-temannya setelah ini. Mereka masuk ke bus yang akan melaju ke pusat kota Semarang. Mulyani akhirnya dibebaskan bersama ratusan tapol perempuan lainnya. Ternyata pembebasan tersebut juga dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk tapol pria. Mereka menghirup udara bebas dan kembali pulang ke lingkungan masing-masing. Namun tidak dengan Mulyani, bersama beberapa eks tapol ia berusaha membuka lembaran baru dengan mencoba hidup di kota yang belum pernah ia sentuh, Surabaya. Tapi ternyata apa yang dilakukan, tidak selalu seperti yang diinginkan. Masyarakat belum bisa menerima kehadiran eks tapol di sisi mereka. Berbagai hujatan membuat eks tapol lebih terasing dari sebelumnya. Ruang gerak yang terbatas, menjadikan mereka seperti di penjara, lebih tepatnya penjara terbuka. Mau tidak mau, harus berganti nama dan membuang jauh seluruh identitas yang sebelumnya pernah ada. Banyak anak-anak yang tumbuh dewasa tanpa kehadiran ayahnya dan ibunya yang terpenjara, menjadikan mereka antipati kepada orangtuanya berstatus eks tapol, “Bu, anu kowe to Bu, wong sing terlibat G30S/PKI jelek.”[4] Ternyata sang penguasa sudah mematri sejarah belaka.
Alhasil, di Surabaya Mulyani mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah keluarga Tionghoa yang mau menerima ia apa adanya. Namun ia tidak bertahan lama, karena tidak jarang ba-nyak petugas kodim bertamu ke rumah majikannya itu. Perasaan was-was selalu mengganggunya, meskipun para petugas itu sekadar ngobrol-ngobrol. Ketika dilihat para tamu majikannya yang berseragam hijau bebercak cokelat datang, Mulyani menjadi gatal-gatal dan timbul bentolan-bentolan besar di sekujur tubuhnya.
Akhirnya, Mulyani teringat pada pekerjaan yang dilakoninya dulu sebelum drama penyiksaan terjadi. Apa yang bisa dilakukan oleh Mulyani untuk bertahan hidup? Cap eks tapol sudah melekat pada dirinya untuk bisa bekerja di suatu instansi sebagai pegawai rendahan. Naun apakah para lelaki masih mau menggunakan jasa seks dengan wanita yang umurnya sudah kepala 3, dengan beberapa kerutan yang ada di wajahnya? Ternyata para lelaki bernafsu besar belum punah. Dalam sehari, Mulyani bisa dapat 3-5 pelanggan. Meskipun bayarannya tak sebesar ketika muda dulu, setidaknya perut ini terisi, ujarnya.
Tak jauh dari tempat protitusi terbesar di kota Surabaya, Mulyani berpindah-pindah tempat menghindari persaingan yang ketat. Dari lelaki berambut putih yang sudah susah berjalan hingga yang penisnya tak lebih panjang dari kelingking Mulyani, semua masih puas dengan kelihaian Mulyani melayani mereka. Seiring bertambahnya umur Mulyani, harga jual menjadi semakin berbanding terbalik. Semakin banyak anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu, bahkan putih merah, yang menjadi pelanggan tetapnya.
Mulyani masih menanti pelanggan selanjutnya. Kira-kira sudah batang rokok kelima ia hasap. Untuk mengatasi kejenuhannya, ia pun berusaha berdiri menyalakan TV yang sudah usang di hadapannya. Semenjak bebas dari penahanan, Mulyani menjadi suka mengikuti berita-berita di TV hitam putihnya itu. Ia berharap orang-orang yang sewaktu dulu menyiksanya, mendapat hukuman yang setimpal dengan dirinya bahkan lebih. Namun para dalang yang ada di balik kejadian itu pun masih berkeliaran hingga saat ini dan bahkan beranak cucu, menempati kursi-kursi pemerintahan. Mereka melindungi orang-orang yang menyiksanya, bahkan memberi penghargaan atas jasa mereka yang dinilai turut mengamankan negara.
Tak berapa lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Mulyani meraih kunci yang ada di atas TV, lalu berjalan agak tertatih menuju pintu. Mulyani membuka pintu sedikit, mengintip siapa yang mengetuk. Pria paruh baya berkaos hitam dan bercelana hijau bercak coklat berdiri di muka pintu. Mulyani mempersilahkan masuk, tubuhnya mulai gatal.
[1]Dibawa keluar penjara dan terkadang tidak pulang kembali.
[2]Dibunuh
[3]Singkong yang hitam
[4]“Bu, mengapa kamu ikut-ikutan itu sih Bu, orang yang terlibat G30S/PKI jelek.”
Alhasil, di Surabaya Mulyani mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah keluarga Tionghoa yang mau menerima ia apa adanya. Namun ia tidak bertahan lama, karena tidak jarang ba-nyak petugas kodim bertamu ke rumah majikannya itu. Perasaan was-was selalu mengganggunya, meskipun para petugas itu sekadar ngobrol-ngobrol. Ketika dilihat para tamu majikannya yang berseragam hijau bebercak cokelat datang, Mulyani menjadi gatal-gatal dan timbul bentolan-bentolan besar di sekujur tubuhnya.
Akhirnya, Mulyani teringat pada pekerjaan yang dilakoninya dulu sebelum drama penyiksaan terjadi. Apa yang bisa dilakukan oleh Mulyani untuk bertahan hidup? Cap eks tapol sudah melekat pada dirinya untuk bisa bekerja di suatu instansi sebagai pegawai rendahan. Naun apakah para lelaki masih mau menggunakan jasa seks dengan wanita yang umurnya sudah kepala 3, dengan beberapa kerutan yang ada di wajahnya? Ternyata para lelaki bernafsu besar belum punah. Dalam sehari, Mulyani bisa dapat 3-5 pelanggan. Meskipun bayarannya tak sebesar ketika muda dulu, setidaknya perut ini terisi, ujarnya.
Tak jauh dari tempat protitusi terbesar di kota Surabaya, Mulyani berpindah-pindah tempat menghindari persaingan yang ketat. Dari lelaki berambut putih yang sudah susah berjalan hingga yang penisnya tak lebih panjang dari kelingking Mulyani, semua masih puas dengan kelihaian Mulyani melayani mereka. Seiring bertambahnya umur Mulyani, harga jual menjadi semakin berbanding terbalik. Semakin banyak anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu, bahkan putih merah, yang menjadi pelanggan tetapnya.
Mulyani masih menanti pelanggan selanjutnya. Kira-kira sudah batang rokok kelima ia hasap. Untuk mengatasi kejenuhannya, ia pun berusaha berdiri menyalakan TV yang sudah usang di hadapannya. Semenjak bebas dari penahanan, Mulyani menjadi suka mengikuti berita-berita di TV hitam putihnya itu. Ia berharap orang-orang yang sewaktu dulu menyiksanya, mendapat hukuman yang setimpal dengan dirinya bahkan lebih. Namun para dalang yang ada di balik kejadian itu pun masih berkeliaran hingga saat ini dan bahkan beranak cucu, menempati kursi-kursi pemerintahan. Mereka melindungi orang-orang yang menyiksanya, bahkan memberi penghargaan atas jasa mereka yang dinilai turut mengamankan negara.
Tak berapa lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Mulyani meraih kunci yang ada di atas TV, lalu berjalan agak tertatih menuju pintu. Mulyani membuka pintu sedikit, mengintip siapa yang mengetuk. Pria paruh baya berkaos hitam dan bercelana hijau bercak coklat berdiri di muka pintu. Mulyani mempersilahkan masuk, tubuhnya mulai gatal.
[1]Dibawa keluar penjara dan terkadang tidak pulang kembali.
[2]Dibunuh
[3]Singkong yang hitam
[4]“Bu, mengapa kamu ikut-ikutan itu sih Bu, orang yang terlibat G30S/PKI jelek.”
* Dipublikasikan dalam BERANDA #1 "Pulang", Maret 2014 http://issuu.com/diberanda





































