Monday, January 8, 2018

Menyesap Buku Foto


Buku foto Indonesia semakin bersinar. Kata-kata tersebut semakin berdengung di telinga saya kian kemari. Jumlah buku foto yang diterbitkan di Indonesia semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini. Bagi seseorang yang mengitahkan dirinya seorang fotografer profesional maupun non-fotografer, semakin berani bertutur melalui medium visual dan mengemasnya menjadi buku foto. Gueari Galeri, salah satu pemain buku Foto Indonesia, hadir sebagai penerbit independen yang mendukung pertumbuhan buku foto yang dibuat oleh orang Indonesia ataupun yang menyajikan tema tentang Indonesia.

Perbincangan maupun perdebatan tentang berbagai buku foto, kian digiatkan oleh banyak orang maupun komunitas. Begitu juga dengan pro dan kontra bagaimana membuat buku foto yang baik atau selayaknya. Bagi saya tidak ada yang salah atau pun benar untuk setiap orang memahami atau menilai sebuah buku foto.

Menurut saya, buku foto Indonesia telah lahir kembali menyesuaikan dengan jamannya. Lahir dengan berbagai bentuk dan tema yang segar. Memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Namun saya yang awam bersentuhan dengan buku foto, ibarat seorang bayi yang baru lahir dan pertama kali menyesap air susu ibu. Yang pada tahap perkembangannya, bayi memperoleh kepuasan melalui oral. Ia tidak hanya memelajari hal sekitar melalui apa yang dilihatnya, namun berusaha meraih dan mencerupnya. Tak terkecuali makanan lunak, solid, ataupun benda-benda yang tak seharusnya dicecap. Dari situlah, ia belajar mengenal dan memahami dunia.

Setahun belakangan, saya melihat proses perkembangan keponakan saya. Saat ia pertama kali diluncurkan ke dunia hingga ia dibebat, saat ia pertama kali mencoba merangkak hingga berjalan dengan teroleng-oleng. Dengan tangan mungilnya, ia berusaha meraih segala benda didekatnya yang menarik perhatiannya, melemparkannya, menggenggamnya kembali, dan mencoba mencerupnya. Melepehnya dengan segera hal-hal yang tidak disukanya ataupun tetap mengisap dan menelannya. Ia jadi paham, bahwa zat lunak encer nan berlendir dan berwarna merah yang bernama pepaya adalah makanan yang disukainya. Ia tahu bahwa bebatuan merah yang tergantung di cuping telinga saya adalah anting-anting yang tak seharusnya ia sesap.

Begitu juga dengan menikmati buku foto. Semua buku foto yang ada, pantas untuk dikonsumsi. Tidak ada yang lebih baik atau tidak berguna. Semua buku foto memiliki perannya masing-masing. Bagi saya buku foto tidak hanya bisa dipuaskan dengan sebatas dipandang saja. Ia harus diraih, disentuh, dirasa setiap sudut maupun lembar per lembarnya. Menikmati permukaan sampul depan yang timbul ke luar atau dalam, jenis dan warna kertas yang menyajikan rasa berbeda pada foto yang tercetak, desain kemasan dan ukuran buku ataupun manuver lipatan kertas pada setiap halamannya yang memberikan sensasi berbeda. Yang tidak mungkin kita dapatkan hanya dengan menggeser-geser telunjuk tangan dari kanan ke kiri atau bawah ke atas, menyentuh layar yang bersinar untuk menikmati susunan foto yang berbentuk e-book.

Dalam menikmati buku foto, segala pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki turut mempengaruhi pemilihan dan penilaian kita atas buku foto yang kita kecap. Misalnya dalam memandang suatu buku foto yang sama, latar belakang psikologi yang saya miliki akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda dengan orang yang berlatar belakang geologi atau hukum atau pedagang satay atau nelayan yang lebih banyak berkutat dengan laut dan ikan.

Seperti anak teman saya yang berusia dua tahun. Bersama orangtuanya, ia tumbuh dan besar di suatu pulau yang terekspos pantai. Ia banyak menghabiskan waktunya di pasir berbatu karang, yang menyatu dengan laut. Ia berkembang dengan logat ke bali-balian, meskipun kedua orangtunya lahir dan besar di Jakarta. Saat ia bertemu saya, ia menunjukkan pada saya beberapa benda keras yang serupa dengan batu (meskipun ada yang bukan batu), dan ia mengatakannya dengan terbata-bata bahwa benda itu adalah batu, dengan logatnya yang khas.

Oleh karena itu, dalam proses memahami buku foto, latar belakang psikologi turut mendorong saya untuk selalu kepo siapa pengarya buku foto (personal) yang saya sesap. Bagaimana sang pengarya tumbuh hingga pergulatan batinnya sehingga ia dapat menghasilkan foto-foto yang ada dan menyusunnya menjadi suatu tema tertentu. Karena saya yakin, buku foto yang lebih personal adalah kepingan dari gambar keseluruhan identitas, karakter, atau sejarah sang pengarya. Meskipun simbol  pada foto-foto yang dihadirkan bisa secara tersurat maupun tersirat.

Akhir kata, untuk bisa lebih memahami buku foto, banyak-banyaklah menyesapnya sebelum masa menyapih datang karena tidak bisa mengakses buku foto yang pernah ada.