Tuesday, September 3, 2013
Ibu Si Anak Penurut
Suatu hari, saya bermimpi.
Dalam mimpi itu, saya bertemu dengan seorang Ibu. Kita berada dalam suatu perjalanan, seperti dalam sebuah bus yang melaju entah kemana. Ia duduk di sebelahku.
Saya duduk di dekat jendela, sehingga bisa melihat luas keadaan diluar bus. Asap knalpot tumpah ruah menyebar masuk ke dalam setiap pernapasan tanpa meminta izin. Para pejalan kaki yang beradu dengan motor di arena trotoar. Tatapan kosong antar kelompok murid berseragam putih abu-abu yang bertikai. Dan gedung tinggi menjulang nan kosong dan struktur bangunan yang miring.
Tiba-tiba wanita di sampingku menyentuh tanganku, "Nak usiamu berapa?"
"20 Bu."
"Tebakanku hampir benar. Kukira kau 22 tahun seperti anakku."
Saya tersenyum.
"Berbicara tentang anakku, ia anak yang luar biasa. Sejak kecil selalu menurut apa yang dikatakan olehku dan suamiku. Tak pernah ia membantah sampai ia beranjak dewasa. Manut ketika diberi tahu, mengalah ketika adiknya menginginkan barang miliknya, mengikuti saran ibunya ketika menentukan akan kuliah apa. Sekarang ia sedang menempuh kuliah kedokteran di kota pelajar. Aku dan suamiku tak pernah khawatir akan dirinya, karena ia anak yang berbakti."
Seketika itu juga saya mengalami diorientasi waktu. Tubuhku tertarik ke masa yang berbeda. Saya adalah seekor nyamuk, yang terus terbang tanpa rasa haus akan darah.
Saya melihat seorang anak perempuan yang sedang dimandikan ibunya, sambil melantunkan lagu "…….anak manis janganlah dicium sayang, kalau dicium merahlah pipinya…"
"Oh anakku yang baik, yang selalu menuruti ayah dan ibunya," dikecupnya kening anak itu.
Anak itu hanya diam menatap ibunya yang tersenyum sumringah.
Kemudian anak itu diperbolehkan main hanya sekitar pekarangan rumah, yang dibatasi oleh pagar bambu.
Saya melihat ada anak-anak lain yang melewati depan rumahnya saat si anak itu bermain masak-masakkan bersama adiknya. Salah satu dari gerombolan anak-anak tersebut memanggil si anak perempuan itu.
"Hey T kamu seperti tuan putri saja, bertelur di rumah. Sini keluarlah bermain bersama kami. B baru saja membeli anak ayam yang kuning ini."
T nama anak perempuan itu menatap ke segerombolan anak yang memanggilnya.
"Ah T mana berani keluar rumah, ia kan sama seperti anak ayam ini. Manut-manut seperti ayam yang mencari makanan", mereka tertawa.
Dan si T masih menatap mereka.
B menantang T, "Ngapain kamu liatin kita, sudah berani? Kalau berani sini coba remas anak ayamku. Paling kau juga takut, kau pasti juga tak berani membunuh nyamuk. Kau kan anak yang berbakti pada orangtua", mereka tertawa lebih keras lagi
Saya berharap T tidak disuruh membunuh nyamuk yang sedang mengitari dirinya, yaitu saya.
Kemudian T berdiri dan mendekati gerombolan anak itu yang berada di balik gambar. Ia menjulurkan tangannya, B menaruh anak ayam di atas telapak tangannya.
Dan seketika, T meremas anak ayam B sampai tak bersuara. Berharap gerombolan anak itu tertawa lebih keras karena bahagia melihat dirinya menuruti keinginan mereka.
T tak mengindahkan kaki anak ayam yang meronta-ronta karena terenggut nyawanya, tatapannya tetap tertuju kepada B dan teman-temannya.
Gerombolan anak itu terdiam, tak tertawa, tak bersuara. Memperlihatkan wajah ngeri dan terkejut melihat T tega melakukan hal itu. Mereka lari. Tatapan T kosong, heran akan sikap gerombolan anak-anak itu. Kemudian T melanjutkan permainan memasak bersama adiknya yang dari tadi sibuk bermain masak-masakan.
Tiba-tiba tubuhku tertarik ke masa yang berbeda. Kembali mengalami disorientasi ruang dan waktu. Saya melihat anak-anak berseragam putih merah sedang duduk manis melihat seorang pria dewasa berkacamata yang menulis dengan kapur di tubuhku. Apakah sekarang saya adalah papan tulis?
Kemudian kudengar bunyi bel berdering kencang tak mengenal ampun. Seketika itu juga anak-anak meraihkan alat tulis mereka yang ada di atas meja. Satu persatu anak-anak berseragam itu keluar meninggalkan kelas. Terakhir kulihat anak perempuan yang masih menyusun kotak pensilnya dengan rapih, dengan seragam yang belum kusut setelah seharian dipakai.
Si pria berkacamata memandang anak perempuan itu.
"T kemari kamu."
"Iya Pak?"
"Saya dengar kamu dicubit oleh S kemarin?"
"Iya Pak, dicubit sedikit di pinggang, tidak terasa sakit."
"Kau tahu bahwa orangtuamu menitip kamu kepada saya untuk selalu saya jaga. Mereka khawatir akan kejadian kemarin. Mana coba saya lihat bekas cubitannya?"
"Sudah hilang Pak."
"Tidak apa, saya lihat itu artinya saya khawatir. Sekarang buka baju kamu"
T melepaskan kancingnya satu persatu.
"Sekalian buka juga singletnya, agar saya kelihatan lebih jelas lukanya."
T melepas singletnya.
"Hmmm, kurang terlihat pinggang kamu. Sekarang buka juga rokmu."
T juga melepaskan roknya, yang sekarang ia hanya mengenakan celana dalam.
"Masih kurang terlihat, sekarang lepas juga celana dalammu", terlihat sudut senyum di bibir pria itu.
Rasanya saya ingin menjatuhkan diri menimpa pria jahanam itu, tapi saya adalah benda mati yang tidak mampu bergerak sendiri.
Dan di hadapanku T yang telanjang tanpa sehelai kain pun. Pria itu memandangi tubuh T dari atas bawah atas bawah, dan terlihat tatapan T yang kosong berharap melihat pria di depannya tersenyum senang karena ia telah menuruti keinginannya.
Saya mati rasa. Sedih melihat pemandangan itu.
Yah, kamu kan benda mati bagaimana bisa merasa.
Aku mati rasa sebagai benda mati yang berperasaan manusia.
Lalu saya terdorong lagi melintasi lorong waktu. Saya merasa sesak.
Tiba-tiba saya berada dalam suatu ruangan tidak terlalu besar namun juga tidak sempit. Ada almari, meja, tempat tidur, beragam sepatu, dan buku-buku tertata rapih.
Pintu terbuka.
Terlihat seorang perempuan dan seorang lelaki.
Pintu tertutup.
Kemudian si lelaki memeluk si perempuan, lalu mengecup bibir si perempuan.
Si perempuan terdiam.
Lalu si lelaki meraba dada dan seluruh tubuh si perempuan.
Perempuan itu tetap terdiam.
"Kalau kau sayang padaku, biarkan aku melepas pakaianmu", bisik si lelaki itu.
Perempuan itu mengangkat kedua tangannya, membiarkan si lelaki melucuti pakaiannya. Dan pada akhirnya terjadilah persetubuhan itu.
Saya kedinginan. Meskipun saya menjelma menjadi penyejuk ruangan, namun saya merasa mengigil. Bergetar. Seolah-olah saya mengalami psikosomatik karena rasa geram dalam diriku.
Hari demi hari saya sering melihat pemandangan seperti itu. Berbeda laki-laki dan tingkah laku, namun berakhir dengan tujuan yang sama.
Saya tidak lagi mengigil, saya meneteskan air, saya menangis. Anggap saja penyejuk ruangan sedang bocor.
Tiba-tiba listrik padam, semua terasa gelap.
Ketika saya membuka mata, ternyata saya tertidur di dalam bus yang melaju entah kemana. Tadi saya bermimpi. Bisa-bisanya saya bermimpi dalam mimpi.
Di sebelahku masih duduk seorang ibu yang bercerita tentang anaknya yang bernama T.
Saya menatap ibu tersebut, "Maaf saya tertidur."
"Tidak apa. Ketika kamu tertidur mengingatkanku kepada T yang jauh nun di kota lain."
"Anak perempuan kebangganku dan suamiku."
Dan saya tak lagi bisa tersenyum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Intinya apaan ya Miss. Caron?
ReplyDelete1. Jangan percaya mimpi
2. Jangan terlalu penurut
3. Apakah salah bila semua pria punya tabiat seperti itu?
(thanks, :)